Rahasia Kota Kecil



Pagi itu suasana jalan KABUPATEN GELUMBANG basah karena sisa hujan semalam. PASAR TRADISIONAL GELUMBANG sudah mulai ramai, suara pedagang sayur bercampur klakson ANGKOT KECIL GELUMBANG dan bau getah karet yang dibawa angin dari kebun-kebun di pinggiran kota. Di tengah ALUN-ALUN KOTA GELUMBANG yang hijau, berdiri megah gedung BANK AMAN Cabang Gelumbang—bangunan dua lantai bergaya jengki modern dengan cat putih bersih dan logo besar di atas pintu utama.

Arya, 26 tahun, mengendarai motor bebek butut kesayangannya pelan-pelan menuju kantor. Jam di tangannya menunjukkan pukul 06.45. Dia masih menguap kecil.

Tiba-tiba, dari arah berlawanan, muncul skuter matic pink metalik yang melaju cukup kencang. Pengendaranya seorang gadis muda, tangan kirinya memegang ponsel, sibuk membuka aplikasi peta digital.

Crak!

Spion kiri motor Arya lepas, terlempar ke aspal basah, cermin-nya pecah.

Arya langsung rem mendadak, hampir terpeleset. Dia turun dari motor dengan wajah merah padam.

“Aaai, dah. Hari masih pagi, ado bae..." gumamnya pelan.

Gadis itu buru-buru mematikan mesin, membuka helm. Wajahnya cantik, mata besar, rambut panjang diikat ponytail cepat-cepat. Dia panik.

“Maaf banget, Mas! Saya buru-buru. Saya benar-benar nggak lihat. Spionnya rusak parah ya? Saya ganti, saya ganti!” katanya cepat, suaranya gemetar dengan logat ala Jakarta.

Arya masih kesal, tapi melihat wajah gadis itu yang benar-benar menyesal, amarahnya perlahan surut.

“Idak apo-apo, spionnyo cuma lepas bae. Tapi besok-besok kalu bawak motor jangan sambil megang hape, bahaya nian,” jawab Arya, nada suaranya masih agak ketus.

Gadis itu—yang ternyata bernama Raisa (22 tahun)—masih memaksa ingin memberi uang ganti rugi. Tapi Arya menggeleng.

“Sudahlah! Biar ini urusan aku. Pegilah kau, agek terlambat. Katonyo buru-buru!"

Raisa mengucap terima kasih berkali-kali, lalu bergegas memakai helm lagi. Sempat Raisa melirik ke arah spion skuter matik miliknya yang juga retak seperti sarang laba-laba. Namun kemudian Raisa menghidupkan mesin dan melaju pergi. Arya hanya geleng-geleng kepala sambil memungut spionnya yang jatuh, mengamati pecahan kacanya yang berserakan di jalan, lantas memasangnya kembali dengan susah payah.

-----

Pukul 07.15, Arya akhirnya tiba di parkiran belakang Bank Aman. Dia masih ngedumel sendiri soal spion. Tiba-tiba terdengar suara ramah.

“Ai. Ngapo kau Arya pagi-pagi lah merengut?"

Itu Pak Dedi, satpam senior yang sudah 20 tahun mengabdi di Bank Aman. Rambutnya sudah memutih, tapi senyumnya selalu hangat.

“Spion motor lepas, Pak Dedi. Ado cewek nyerempet aku tadi," keluh Arya sambil mengunci motor.

“Belagak dak budaknyo?"

"Ai Pak Dedi ni. Absen dulu Pak, pening palak aku"

Arya masuk ke dalam gedung. Bau kopi pagi dan lantai yang baru dipel sudah tercium.

Di dalam, Bik Siti—OB kesayangan kantor (55 tahun)—sedang ngepel sambil bersenandung lagu dangdut "bujangan", Rhoma Irama.

“Pagi, Arya ganteng belagak nan aduhai!"

"Pagi Bik Siti, biduan kabupaten Gelumbang," balas Arya.

Bik Siti makin bergaya, sampai tongkat pel ia jadikan mikrofon.

"Terima kasih, penggemar! Terima kasih, terima kasih. (lanjut nyanyi) Bujangaaan..."

Arya hanya tersenyum kecil terus berlalu, Bik Siti lanjut ngepel sambil pinggulnya geal-geol joget.

-----

Pukul 08.00 tepat, semua Karyawan sudah berkumpul di ruang rapat kecil di lantai dua. Pak Haris (48 tahun), Kepala Cabang yang ambisius dan tegas, berdiri di depan sambil memegang map tebal.

Karyawan-karyawan tersebut, antara lain: Dina (Customer Service Senior, 32 tahun); Wulan (Kepala Kasir/Teller Utama, 45 tahun); Rahayu (Teller Cadangan, 28 tahun); Eko (Admin Belakang, 35 tahun).

“Hari ini kita kedatangan karyawan magang baru,” katanya dengan suara lantang. “Fresh graduate dari universitas di Jakarta. Raisa!”

Pintu ruangan dibuka.

Raisa masuk dengan senyum cerah, baju kemeja putih rapi, rok hitam selutut, rambut diikat ponytail tinggi. Dia salam ke semua orang dengan sopan.

“Selamat pagi, senang sekali bisa bergabung di Bank Aman Cabang Gelumbang.”

Arya yang duduk di pojok, langsung membelalak.

"Ini… cewek yang nyenggol motor aku tadi?!"

Raisa melirik ke arah Arya, matanya berbinar. Dia melambai kecil dengan senyum lebar, seolah-olah berkata “hai, ketemu lagi!”.

"Ya Tuhan… Ngapo jadi belagak mak ini? Eits! Dio budak baru, aku harus jago image."

Haris memberikan instruksi singkat: “Arya, tolong bimbing Raisa hari ini. Jangan sampai dia bingung.”

Arya mengangguk sopan, tapi dalam hati menghela napas panjang.

Haris sudah kembali ke ruangannya, tinggalkan ruang rapat.

Raisa mendekat dengan senyum lebar, membawa tas kecil berisi buku catatan dan pulpen baru.

“Mas Arya, eh Kak Arya. Ternyata kita satu tim ya hari ini! Makasih banyak loh mau ngajarin,” katanya riang, seolah-olah pagi tadi tidak pernah terjadi insiden spion.

Arya memaksakan senyum. “Iyo, dak apo-apo. Payo ke bawah, kito ke loket CS dulu.”

Mereka turun ke lantai satu. Di sana, Dina—CS senior yang sudah tujuh tahun di bank—sudah duduk di loketnya sambil memeriksa laporan. Dina sedang bersama Eko. Dina melirik Raisa dari atas ke bawah, lalu tersenyum tipis.

“Lain nian, oi. Budak baru dari Jakarta langsung diserahke ke Arya. Mentang-mentang Arya paling ganteng di kantor ini,” goda Dina sambil nyengir ke Arya.

"Namonyo bae, Arya ganteng belagak dan aduhai!" sambung Bik Siti yang melintas menuju belakang.

“Ai, Ayuk Dina ini. Nak diomongke cantik, apo?" balas Arya.

"Memang aku cantik. Wuek!" timpal Dina sambil mencibir.

Raisa tertawa kecil. Arya pura-pura sibuk membuka komputer.

-----

Training dimulai.

Arya—dengan nada yang awalnya agak datar—menjelaskan sistem internal bank: cara verifikasi KTP, buka rekening tabungan, hingga prosedur penanganan keluhan nasabah. Raisa mencatat cepat, matanya berbinar-binar setiap kali Arya menjelaskan sesuatu.

“Wah, sistemnya lumayan juga ya. Saya kira di cabang kecil gini benar-benar manual,” komentar Raisa antusias.

Arya akhirnya tersenyum kecil. “Kalu modern nian cak di Jakarta tu, idak. Cuman jadilah. Yang penting idak ketinggalan zaman. Harus update terus.”

Perlahan, sikap Arya luluh. Gadis ini memang cepat tangkap, sopan, dan benar-benar semangat. Kesalnya pagi tadi mulai memudar.

-----

Nasabah pertama hari itu datang: Ibu Sari (45 tahun), pedagang sayur di pasar yang rutin menabung setiap hari. Dia menyerahkan uang receh dalam kantong plastik hitam ke loket Raisa.

“Anak aku nak daftar kuliah, Dek. Tapi duit masuknyo masih kurang sedikit,” curhat Ibu Sari sambil menghitung ulang uangnya.

Raisa langsung empati. Matanya berkaca-kaca. “Ibu pasti bangga sekali ya… anaknya kuliah. Semoga rezekinya lancar.”

Dari loket sebelah, Dina menggeleng sambil berbisik ke Wulan yang sedang menghitung uang tunai.

“Baru hari pertamo lah nak ikut-ikutan nangis samo nasabah. Biso-biso agek tiap hari banjir air mato di sini.”

Wulan cuma tersenyum tipis. “Biarke bae. Yang penting hati dio tulus kalu ke nasabah. Kalu tulus kan, berarti kerjo kito bener. Kerjo bener, terimo gaji, sudah, titik. Dak usah banyak macam."

Dina sewot sedikit ke arah Wulan, namun ia tetap lanjut beraktivitas.

-----

Menjelang siang, seorang pemuda ganteng berjas rapi datang ke loket Raisa. Namanya Fajar (28 tahun), anak pengusaha karet terkenal di Gelumbang. Fajar disambut oleh Pak Budi (satpam shift pengganti, 50 tahun).

"Selamat datang di Bank Aman! Ada yang bisa dibantu?"

Fajar, "Mau setor tunai!".

Fajar diarahkan ke "slip setoran", terus ke loket Raisa. Di sinilah pertama kali Fajar tertarik ke Raisa, jatuh cinta pada pandangan pertama. Fajar melirik nama di meja loket, tertulis "Raisa".

Selama menyetor uang tunai, Fajar lebih sering melirik Raisa daripada slip setoran.

“Dek Raisa yo? Baru di sini? Wah, belagak nian, Gelumbang nambah cerah jadinyo,” katanya sambil tersenyum lebar, gigi putihnya kinclong.

Raisa tersipu, tapi tetap profesional. “Terima kasih, Kak. Ini slip setorannya sudah saya proses ya.”

Fajar nggak nyerah. “Eh, kalu ado yang Adek belum paham soal Gelumbang, boleh tanyo aku bae. Aku lahir-besak di sini.”

Arya yang duduk di loket sebelah hanya bisa geleng-geleng kepala sambil pura-pura sibuk.

-----

Waktu istirahat makan siang tiba.

Arya dan Raisa duduk di kantin kecil belakang bank, makan nasi goreng pakai telor ceplok dari Bik Siti. Raisa membuka kotak bekalnya sendiri.

Raisa bercerita, “Kak Arya tahu nggak, sebenarnya aku lahir di Gelumbang loh. Tapi umur satu tahun udah dibawa ke Jakarta sama Mama. Abis papa meninggal dan aku lulus kuliah, Mama bilang pengen pulang kampung aja. Katanya di sini udara segar, nggak macet, lebih tenang. Aku sih ikut-ikutan, sekalian pengen kenal tanah kelahiran sendiri.”

Arya mengangguk sambil tersenyum. “Yo, betul tu. Di sini katek macet, cepet betah kamu kagek.”

“Kak Arya makan ini aja, buatan Mama. Banyak banget, aku nggak habis,” kata Raisa sambil menyodorkan potongan ayam.

Arya ragu sebentar, tapi akhirnya menerima. “Mokasih yo.”

Mereka ngobrol santai. Tiba-tiba Raisa bertanya, “Eh Kak, tadi pagi maaf ya spionnya!"

Arya pura-pura cuek, mengaduk nasi di piringnya. “Dak apo-apo. Cuma spion motor bae.”

Raisa tertawa manja. “Maaf ya… Nanti kalau udah gajian, aku ganti spion baru. Yang bagus, janji!”

Momen ringan itu terasa hangat, sampai mereka sadar saatnya untuk kembali kerja.

-----

Sore itu, Bank Aman Cabang Gelumbang mulai ramai. Antrean nasabah mengular sampai mendekati pintu kaca. Ada yang mau bayar listrik, setor tunai hasil sadap karet, hingga ibu-ibu yang ingin ambil uang belanja akhir bulan.

Raisa sudah mulai terlihat capek. Keningnya sedikit berkeringat, tapi senyumnya tetap terpasang setiap kali melayani nasabah. Arya yang berada di loket sebelah sesekali melirik, lalu tanpa banyak bicara menyodorkan botol air mineral.

“Minum dulu. Masih lamo tutup bank kito,” bisik Arya.

Raisa mengangguk sambil tersenyum lelah.

“Makasih, Kak. Nggak nyangka antreannya segini panjang.”

Arya hanya mengangkat bahu. “Biaso, abis musim tender karet. Sabar yo.”

Di tengah keramaian itu, tiba-tiba pintu otomatis bank terbuka pelan. Masuklah seorang pria tua berjalan pelan dengan tongkat. Usianya sekitar 70-an, bajunya sederhana tapi rapi, kemeja lengan pendek yang sudah agak pudar. Namanya Pak Warsa.

Dia langsung menuju loket Arya.

“Selamat siang, Nak. Nak nanyo soal kredit lamo,” katanya dengan suara pelan tapi tegas.

Arya yang sedang memproses transaksi nasabah sebelumnya langsung menegang. Tangannya berhenti di atas keyboard sebentar. Wajahnya berubah kaku.

“Iya, Pak. Nomor rekeningnya berapa?” tanya Arya, suaranya datar, berusaha profesional dengan bahasa formal.

Warsa menyebutkan nomor rekening lama. Arya membuka data di komputer, matanya menyipit membaca catatan.

“Dulu aku pinjam duit di sini untuk modal usaha. Tapi macet… Bank zaman itu kejam nian, Nak,” cerita Warsa pelan, nada suaranya ada sedikit getir.

Arya menunduk, jari-jarinya mengetik lebih pelan. Dia tahu betul cerita itu. Pak Warsa adalah ayah kandung Arya.

Dulu, saat Arya masih remaja, usaha keluarga bangkrut. Kredit bank macet, rumah hampir disita. Arya memilih merantau ke Batam, malu dengan masa lalu itu. Kini dia kembali ke Gelumbang diam-diam, bekerja di bank yang sama yang dulu “menyusahkan” keluarganya—tanpa pernah bilang ke siapa pun bahwa Warsa adalah ayahnya.

Di depan orang lain, mereka berpura-pura tidak saling kenal.

“Iya, Pak. Data lama memang sudah tidak aktif lagi,” jawab Arya dingin, berusaha menutup pembicaraan.

Warsa mengangguk pelan. “Yo sudah, terimo kasih yo, Nak.”

Dia berbalik perlahan, berjalan keluar dengan tongkatnya.

Raisa yang kebetulan sedang melayani nasabah di loket sebelah, tidak sengaja mendengar sebagian percakapan itu. Dia mengerutkan kening, tapi tidak paham konteksnya. Hanya merasa ada yang aneh dari ekspresi Arya yang tiba-tiba muram.

-----

Belum lama suasana kembali normal, Arya dipanggil ke ruangan Haris.

Di dalam ruangan ber-AC yang dingin, Haris duduk di kursi besarnya, memandang Arya dengan tatapan tajam.

“Arya, performa CS bulan lalu agak turun. Keluhan nasabah naik. Ngapo pacak mak ini?," tegas Bapak Haris sambil menunjuk print-out laporan.

Arya menunduk. “Maaf, Pak. Saya akan perbaiki.”

“Bukan cuma itu. Kantor wilayah lagi awasi ketat cabang kito. Khabarnyo, minggu depan nak ado audit. Cuman harinyo belum pasti. Aku khawatir, kalu ado yang dak beres…” Bapak Haris berhenti sejenak, matanya seperti menyimpan rahasia. “Ai, sudahlah. Pokoknyo, target harus tercapai. Jangan sampe ado masalah.”

Arya mengangguk, tapi dalam hati bertanya-tanya. Dia sudah lama mendengar rumor bahwa Bapak Haris punya “bisnis sampingan” yang tidak jelas—mungkin kredit fiktif atau markup target demi bonus pusat. Tapi bukti? Nol.

“Baik, Pak. Saya usahakan.”

Saat keluar dari ruangan, Arya menghela napas panjang. Hari ini terasa semakin berat.

-----

Sore. Jarum jam menunjukkan pukul 16.45. Bank sebentar lagi tutup.

Raisa sudah duduk sebentar di kursi belakang, mengipasi wajahnya dengan map kosong.

“Capek banget hari pertama,” katanya sambil tertawa kecil ke arah Arya.

Arya tersenyum tipis, mendekat. “Bagus kok kamu tadi. Nasabah banyak yang suka sama senyum kamu.”

Raisa tersipu. “Makasih, Kak. Besok semoga nggak ada yang ngomel ya.”

Mereka tertawa kecil bersama. Untuk sesaat, ada perasaan "beda" di antara keduanya.

Tapi tawa itu terhenti mendadak.

Masuklah seorang wanita cantik berusia sekitar 29 tahun. Rambut panjang bergelombang, gaun merah elegan, sepatu high heels, dan tas branded di tangan. Di luar, terlihat Alphard hitam mengkilap terparkir tepat di depan pintu.

Semua karyawan yang masih ada langsung bisik-bisik.

Dina menarik lengan Bu Wulan pelan. “Itu… Celia Prameswari kan? Yang katanya... Bini orang berkuasa”

Bu Wulan buru-buru menyikut Dina. “Sst! Jangan keras-keras!”

Celia Prameswari berjalan anggun langsung menuju loket Arya.

“Sore!” sapanya dengan suara manis tapi dingin.

“Sore, Bu. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Arya.

“Saya Celia Prameswari. Saya mau tarik tunai semua saldo rekening saya.

”Arya membuka data di komputer.

Suasana di dalam Bank Aman tiba-tiba terasa hening, meski di luar masih terdengar suara motor dan pedagang keliling. Semua mata karyawan yang masih berada di lantai satu tertuju ke loket Arya.

Celia Prameswari berdiri anggun di depan loket, tangannya bertumpu ringan di atas meja kaca. Senyumnya tipis, tapi matanya tajam menusuk.

Arya membuka detail rekening Celia.

“Saldo… cukup besar ya, Bu,” kata Arya pelan, suaranya hampir berbisik. “Mau ditarik semua tunai? Nominalnya tidak kecil, biasanya kami sarankan transfer saja.”

Celia menggeleng pelan. “Tidak. Saya mau tunai SE-KA-RANG. Semuanya.”

Arya dan karyawan lain membelalak saling tatap, antara kaget dan bingung.

BERSAMBUNG...

=====

EPISODE 1

Oleh: Lolo Tukang Ketik

-----




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bayang-bayang Uang Tunai

Yang Aman untuk Hati