Bayangan di Belakang Layar
Malam Jumat di Bank Aman Cabang Gelumbang terasa lebih gelap dari biasanya. Langit mendung menutupi bintang, hanya lampu taman parkiran belakang yang masih menyala redup. Di dalam gedung yang sudah terkunci rapat, ruang arsip di lantai 2 tiba-tiba terang benderang.
Lampu neon menyala mendadak. Pintu terbuka pelan dengan suara engsel yang berderit.
Arya, Raisa, dan Dedi langsung membeku. Map tebal berlabel “Kredit Usaha 2023-2024” masih terbuka di tangan Dedi, foto-foto dokumen di ponsel Raisa baru separuh selesai.
Yang muncul di ambang pintu ternyata... Eko, admin belakang yang pendiam dan jarang ngobrol dengan siapa pun kecuali Dina. Kacamata tebalnya memantulkan cahaya neon, tangan kanannya memegang laptop tipis, tangan kiri memegang flashdisk hitam kecil.
“Nah... Ngapo kamu ni malam malam ado di sini?” tanyanya pelan, suaranya hampir tak terdengar.
Suara Arya dan Raisa tercekat di kerongkongan, tak tahu akan beralasan apa. Suasana tegang.
Untung Dedi maju selangkah, pura-pura santai sambil menutup map dengan cepat. “Ai, kami ni lupo ngambek laporan harian tadi sore, Eko. Sistem khabarnyo error, jadi aku minta tolong Arya samo Raisa bantu cari arsip fisiknyo.”
Raisa buru-buru menyembunyikan HP-nya ke saku rok, jantungnya berdegup kencang. Arya hanya mengangguk kaku.
Eko melirik map di tangan Dedi—tatapannya curiga. Lalu Eko mengangkat laptopnya sedikit. “Oh, mak itu. Sistem pusat memang error nian. Kantor wilayah nak minta input ulang data transaksi kemarin, malam ini jugo. Aku yang ditugaske lembur.”
Eko berhenti sejenak, tatapannya berpindah dari satu wajah ke wajah lain. Arya, Raisa, Dedi terlihat seperti menutup-nutupi sesuatu.
“Yo sudah, aku ngerjoke gawean aku di ruang belakang bae. Kamu-kamu… lanjut bae yo.”
Tanpa menunggu jawaban, Eko berbalik dan berjalan ke lorong gelap. Begitu pintu ruang belakang tertutup, Eko kirim pesan singkat ke Dina via ponsel:
“Ada yang aneh. Arya, Raisa, Pak Dedi malam-malam di arsip. Map kredit lama terbuka.”
Balasan Dina datang dalam hitungan detik:
“Foto kalau bisa. Jangan konfrontasi dulu. Besok lapor Pak Haris.”
Pindah ke Arya, Raisa dan Dedi.
Raisa berbisik, “Dia bohong nggak ya, Kak? Kok malam-malam begini sendirian?”
Arya menggeleng pelan. “Belum tahu. Tapi yang jelas, besok dio pasti cerito ke seseorang. Kito harus cepat kirim bukti malam ini jugo.”
Dedi mengangguk tegas. “Aku jago di bawah. Kalian foto sisonyo cepat. Sepuluh menit lagi kito keluar.”
Mereka melanjutkan dengan tangan gemetar. Raisa berhasil foto semua halaman penting: surat agunan tanah fiktif, transfer keluar ke rekening pribadi “teman” Haris, total 3 miliar dalam 6 bulan terakhir.
Pukul 23.45, mereka keluar lewat pintu samping. Dedi mengunci kembali, lalu berpisah di parkiran.
“Besok pagi aku cek CCTV dulu,” bisik Dedi. “Kalu bae Eko lapor, kito pacak tahu dari situ.”
-----
Di rumahnya, Raisa baca email sambil gemetar di kamar gelap. Sesaat dia ragu hendak mengirimkan email tersebut, atau tidak.
Click!
Raisa sudah kirim bukti via email anonim pukul 01.30. Sepanjang malam Raisa khawatir.
-----
Paginya. Lestari (mamanya Raisa) membuka pintu kamar, kali ini Raisa sudah siap untuk berangkat ke kantor. Lestari cerita, kalau dia bangga dengan putri satu-satunya itu. Sekarang Raisa sudah magang di Bank Aman. Lestari berharap, agar Raisa diangkat menjadi karyawan tetap nantinya.
"Mama cuma mau pesen. Jaga nama baik tempat kamu bekerja. Dengan begitu, kamu akan menjadi bagian dari kantor itu."
Raisa tersenyum, menghibur Lestari. Namun di dalam hati dia bimbang, sebab semalam mengirimkan aib dari kantornya ke kantor wilayah.
-----
Pagi Jumat, alias hari keempat Raisa magang, bank buka seperti biasa. Tapi suasana di dalam sudah berbeda. Dina datang lebih awal, langsung naik ke ruangan Haris.
“Pak, semalam Eko chat saya. Dia lihat Arya, Raisa dan Pak Dedi di ruang arsip malam-malam."
"Ngapo mereka ado di ruang arsip?" Haris curiga.
"Kurang tau, Pak. Yang jelas, ini kiriman foto dari Eko." Dina memperlihatkan foto yang ada di ponselnya ke Haris.
Haris cemas, dia langsung menuju ruang arsip, tepatnya ke map yang semalam. Haris mengecek map tersebut, dia nampak berfikir keras.
-----
Siang hari, bank ramai. Di tengah antrean, seorang pria paruh baya bernama Pak Hadi (47 tahun) mendekati loket Raisa. Tas koper kecil di tangannya tampak berat. “Siang, Dek. Mau setor tunai 180 juta. Hasil jual beli barang impor,” katanya datar, tanpa banyak senyum.
Raisa memproses sambil tersenyum profesional, tapi dalam hati curiga usai melihat data komputer. Ini sudah keempat kalinya bulan ini—selalu tunai, selalu nominal besar. “Wah, lancar ya Pak bisnisnya.”
Hadi hanya mengangguk. “Partner saya di Jakarta lagi banyak order.” Dia melirik sekilas ke lantai 2, seolah menunggu seseorang.
Arya yang duduk di sebelah memperhatikan. Dalam hati: “Ai bebenar bae. Lagi-lagi setor tunai besar. Pola ini mirip nian dengan yang nutupi kas kosong…”
Tak lama setelah Hadi pergi, pintu bank terbuka lagi. Fajar masuk—kali ini mengantar seorang wanita yang ternyata adalah... Bu Lestari?
“Raisa sayang! Mama tadi ke pasar, ketemu Fajar. Dia baik banget nawarin anter ke sini. Soalnya Mama lupa naruh ini ke dalam bekal kamu!" kata Lestari
sambil memeluk putrinya di depan loket. Lestari menyerahkan kantong plastik kecil berisi buah.
Raisa kaget tapi senang. “Mama kok nggak bilang mau datang ke kantor?”
Fajar nyengir. “Mamamu bilang mau surprise. Eh, malam ini jadi kan makan malam bareng? Mamamu juga ikut, loh.”
Lestari tertawa kecil. “Ayo dong, Raisa. Fajar ini baik, lho. Mama dengar dari tetangga, usaha karet papinya besar. Cocok lah kalian deket.”
Raisa tersipu, tapi melirik Arya. Arya pura-pura sibuk, tapi rahangnya sedikit menegang—cemburu yang tak bisa disembunyikan.
-----
Sore hari, pukul 15.30, pintu lantai dua terbuka keras. Seorang pria berjas rapi, ganteng tapi sombong, masuk langsung ke ruangan Haris tanpa mengetuk. Namanya Bang Rico (38 tahun)—teman lama Haris dari Jakarta.
“Ris, gimana kabar kredit tambahan itu? Proyek lagi jalan, butuh 200 juta lagi minggu depan,” katanya lantang.
Haris buru-buru tutup pintu. “Sst, Bang Rico! Wilayah lagi awasi ketat. Minggu depan ada kunjungan mendadak katanya ‘evaluasi rutin’. Sabar dulu.”
Di lantai satu, Dedi yang sedang lewat tangga mendengar sekilas. Dia buru-buru bisik ke Arya: “Itu Bang Rico. Aku pernah lihat dio tahun lalu bawa dokumen agunan. Pasti dio yang dapat kredit fiktif 3 milyar dalam 6 bulan itu.”
Arya mengangguk tegas. “Bukti tambahan.”
Tak lama, telepon kantor berbunyi. Dina angkat, lalu naik ke ruangan Haris.
“Pak, kantor wilayah telepon. Ibu Dewi Susilo bilang Senin pagi ada kunjungan ‘evaluasi internal rutin’. Prosedur biasa katanya, konfirmasi jadwal.”
Haris tersenyum lebar. “Bagus. Kita sudah siap. Eko sudah backup data bersih.”
-----
Sunset. Raisa di parkiran sudah di atas motornya, siap pulang. Arya muncul dari dalam dengan terburu-buru.
"Ra! Aku nak ngomong samo kamu!
"Ngomong apa, Kak Arya?"
Arya ragu-ragu sesaat, tapi kemudian...
"Kalu nanti malam kamu nak jalan dengan Fajar, jalan bae, Ra. Aku dak apo-apo. Lagipulo Mama kamu lah ngijinke."
"Maksud, Kak Arya?"
Arya tak menjawab, dia langsung balik badan membelakangi Raisa
Raisa panggil "Kak Arya!"
Tapi Arya cuma angkat tangan tanpa menoleh lagi. Arya menuju motornya dan langsung pergi. Raisa jadi heran sendiri sambil memandangi cermin spion motor yang retak laba-laba, belum Raisa ganti.
-----
Malamnya. Di rooftop bank yang sepi, Eko dan Dina ketemu diam-diam lagi.
Eko serahkan flashdisk. “Ini data aslinyo sebelum diedit. Kalu Ibu Dewi minta mentah, kasih yang ini—yang sudah dibersihkan.”
Dina ambil, senyum tipis. “Bagus. Pak Haris ngomong ke aku, kamu naik gaji kalu ini lancar.”
Eko ragu sebentar. “Tapi… kalau ketahuan?”
Dina tatap tajam. “Makonyo kito harus solid. By the way, aku curiga, ngapolah Arya dan Raisa di ruangan arsip?"
"Kalu mereka nak ngebongkar aib Pak Haris, untuk apo? Yang rugi kan Bank Aman, tempat kito begawe ini." Eko juga heran.
Dina menambahkan, "Pak Haris melakukan itu untuk kito. Walaopun mungkin, agak dak bener. Toh selamo ini nasabah baik-baik bae".
-----
Malam Sabtu di kamar Raisa, dia mendapatkan email, ada reply singkat (yang tertulis) dari Ibu Dewi:
“Terima kasih atas laporan berani ini. Kami prioritaskan. Mohon jaga kerahasiaan.”
Raisa menghela napas lega sekaligus tegang.
Angin malam berhembus pelan. Bayangan pengkhianat semakin dekat, tapi Haris masih merasa di atas angin.Senin semakin dekat. Dan di Bank Aman, tak ada lagi yang benar-benar aman.
BERSAMBUNG...
=====
EPISODE 5
Oleh: Lolo Tukang Ketik
-----

Komentar
Posting Komentar