Bayang-bayang Uang Tunai
Sore di hari Selasa, masih hari pertama Raisa magang, suasana di lantai satu Bank Aman Cabang Gelumbang nampak tegang karena kedatangan Celia Prameswari. Semua karyawan berusaha berpura-pura sibuk, tapi bisik-bisik tak terhindarkan. Arya duduk di loketnya, bingung. Nominal saldo yang diminta ditarik tunai itu bukan main—2 milyar rupiah, cukup untuk membuat cabang kecil seperti ini kehabisan cadangan kas jika dipenuhi sekaligus.
Soalnya, kas harian cukup untuk operasional kecil, tapi tidak untuk penarikan jumbo.
Celia berdiri di depan loket dengan sabar, tapi nada suaranya tegas. “Saya butuh uangnya tunai, Dek Arya. Besok paling lambat.”
Celia melirik ke nama Arya yang ada di name tag (tanda pengenal).
Arya menelan ludah. Prosedur bank jelas: untuk penarikan tunai besar, harus ada persiapan minimal 3 hari kerja, apalagi jika melebihi batas kas harian cabang. Dia buru-buru memanggil Haris melalui interkom internal.
Tak lama, Haris muncul dari ruangannya di lantai 2, turun dengan langkah cepat tapi terkendali. Wajahnya tersenyum profesional, tapi matanya melirik sekilas ke arah Arya—seolah memberi isyarat “biar saya tangani”.
“Selamat sore, Bu Celia. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Haris dengan suara ramah, tapi ada nada hati-hati di baliknya.
Celia langsung mengulangi permintaannya. “Saya mau tarik semua saldo saya, tunai. Semuanya. Saat ini juga!”
Pak Haris melirik layar komputer Arya sebentar, lalu mengangguk paham. “Nominalnya memang signifikan, Bu. Sesuai regulasi, untuk penarikan tunai sebesar ini, kami butuh waktu persiapan minimal 3 hari kerja. Kas cabang kami terbatas, harus koordinasi dengan kantor wilayah.”
Celia mengerutkan kening, gaun merahnya bergoyang sedikit saat dia menyilangkan tangan. “3 hari? Saya butuh besok, Pak. Ini urusan mendesak.”
Haris tersenyum tipis, berusaha meredakan. “Kami usahakan, Bu. Besok Rabu, ya? Saya akan coba negosiasi dengan wilayah malam ini juga. Tapi kalau bisa, Ibu pertimbangkan transfer saja—lebih aman dan cepat.”
Celia menggeleng tegas. “Tidak. Tunai. Saya datang lagi besok. Kalau nggak ada, kita lihat nanti.” Dia berbalik anggun, high heels-nya berbunyi klik-klak di lantai keramik, lalu keluar menuju Alphard hitamnya yang masih terparkir di depan.
Alphard pun pergi.
Semua karyawan menghela napas lega saat pintu otomatis tertutup. Dina berbisik ke Bu Wulan, “Celia, Celia. Masih samo bae cak dulu, dak pacak diajak kompromi.”
Bu Wulan hanya menggeleng pelan. “Sst! Kito dak usah melok-melok. Itu urusan wong pucuk.”
-----
Bank Aman akhirnya tutup pukul 17.00. Roller shutter diturunkan, lampu neon dimatikan satu per satu. Raisa mengemasi tasnya, masih dengan senyum lelah tapi cerah. Hari pertama magangnya sudah cukup melelahkan, tapi dia merasa lebih nyaman—terutama karena Arya yang semakin ramah membantunya.
“Pulang dulu ya, Kak Arya. Besok ketemu lagi!” sapa Raisa sambil melambai.
Arya mengangguk, tersenyum kecil. “Hati-hati di jalan! Kalu bawak motor, jangan sambil maen hape.”
Raisa tertawa manja. “Iya, janji!”
Satu per satu karyawan pulang, tapi tidak dengan Haris di ruangannya.
“Makmano ini? Lah berbulan-bulan aku gelontorke dana cabang ke proyek itu… ratusan juta tiap kali. Katonyo minggu lalu balik modal, tapi sampe mak ini hari nol. Sekarang Celia nak narik tunai 2 milyar, mano mungkin ado!” dalam hati Haris gelisah.
Haris memanggil Arya masuk setelah yang lain pulang. Ruangan ber-AC itu terasa lebih dingin dari biasanya.
“Duduk, Ya,” kata Haris sambil menyodorkan segelas air putih.
Arya duduk tegak, sudah menduga ini soal Celia. “Iya, Pak. Soal Bu Celia tadi...”
Haris menghela napas panjang. “Nominalnyo besar, Arya. Cabang kito dak katek kas se mak itu besok. Dana kas dari wilayah baru datang Jumat—3 hari lagi. Kalu Celia jadi datang besok dan dak katek uangnya, repot kito. Celia pacak bae complain ke pusat, atau yang lebih buruk lagi.”
Arya mengerutkan kening. “Lho, Pak? Kok biso? Bukannyo setoran nasabah lumayan banyak? Apolagi dari Mas Fajar tadi itu.”
Haris menggeleng pelan. “Itu urusan internal. Pokoknyo, tugas kamu: ulur waktu. Bujuk Celia agar mau datang Jumat bae. Ngomong apo baelah pacak pacak kau—prosedur, keamanan, basing. Malam ini aku cubo nak telpon kepala wilayah, sapo tahu biso percepat dana besok.”
Arya mengangguk, tapi dalam hati bertanya-tanya.
“Baik, Pak. Saya usahakan.”
-----
Malam itu, parkiran belakang Bank Aman sudah sepi. Hanya motor Arya dan Dedi yang masih ada. Dedi sedang merokok di pojok, menunggu Arya keluar.
“Lamo nian Kau meeting dengan Pak Haris, Ya?” tanya Dedi ramah saat Arya muncul.
Arya menghela napas, mengunci helmnya. “Iyo, Pak. Soal nasabah tadi, yang datang bawak Alphard. Dio nak tarik tunai besar besok, 2 milyar, tapi kas kito dak cukup.”
Dedi mengerutkan kening, membuang puntung rokoknya. “Lho? Mada-i bank kito ini dak katek duit? Fajar bae setor ratusan juta rutin tiap 2 minggu dari usaha karet papinya. Belum lagi nasabah lain. Dak mungkinlah cabang kito kehabisan kas?”
Arya mengangguk pelan, "Soalnyo memang yang nak ditarik Celia tu dana jumbo, lain dengan dana operasional harian"
“Ai, mada-i? Apo jangan-jangan...”
Dedi melirik kanan-kiri, suaranya pelan. “Dulu waktu Pak Haris baru jadi kepala cabang, kas kito selalu tebal. Truk pengiriman uang dari wilayah datang tiap Selaso samo Jumat. Tapi duo tahun ini, tiap ado setoran besar langsung ‘hilang’ dak tau kemano. Katonyo untuk investasi cabang, tapi ngapo dak pernah kelihatan hasilnyo.”
Kening Arya berkerut, mikir.
“Pak Haris itu ambisius uwongnyo, Ya. Dari dulu rumornyo galak 'main' target demi bonus. Tapi yo, kito kan cuman satpam samo CS, apolah daya kito.”
Arya hanya diam, menstarter motornya sambil melirik spion yang sudah tak memiliki cermin. Tapi kecurigaan itu mulai menggerogoti pikiran Arya sepanjang perjalanan pulang.
-----
Keesokan harinya, Rabu pagi. Matahari Gelumbang sudah terbit cerah, meski udara masih sejuk. Raisa tiba lebih awal, motor pink metaliknya diparkir rapi di belakang. Ini adalah hari kedua Raisa magang. Dedi menyambut dengan senyum hangat.
“Pagi, Raisa! Lah sudah mulai hapal jalan, kan?”
“Pagi, Pak Dedi! Iya, Alhamdulillah nggak nyasar lagi,” jawab Raisa ceria sambil membuka helm.
Dedi tertawa. “Baguslah. Eh, hati-hati yo di dalam. Caknyo hari ini tegang lagi.”
Raisa mengerutkan kening bingung, tapi tetap masuk dengan semangat.
Di dalam, bank masih sepi. Siti berkemas usai ngepel sambil bersenandung lagu "darah muda"-nya Rhoma Irama.
"Wah! Bik Siti semangat banget pagi ini ngepelnya," goda Raisa yang baru muncul.
"Pasti dong, Raisa. Apo bae gawean kito, kalu kito gaweke dengan semangat, hati jadi senang," jelas Siti.
Bau kopi pagi menguar. Raisa naik ke lantai dua untuk taruh tas, tapi tanpa sengaja lewat depan ruangan Haris yang pintunya agak terbuka.
Di dalam, Haris sedang telepon dengan suara agak keras. “...Sudah jatuh tempo, Bang Rico! Kamu janji minggu lalu. Uangnya mana? Cabang saya lagi butuh kas mendesak nih. Kalau nggak dibayar, gimana?”
Raisa berhenti sejenak, pura-pura mengikat tali sepatu. Dia mendengar sekilas: “Kredit itu kan kamu yang minta, fiktif atau nggak, pokoknya bayar dong!”
Haris kesal, membanting gagang telepon. Raisa buru-buru turun, jantungnya berdegup kencang.
Di lantai satu, dia langsung curhat ke Wulan dan Dina yang sudah datang.
“Mbak, tadi saya nggak sengaja denger Pak Haris telpon. Kayaknya lagi nagih utang ke temannya, kredit apa gitu. Suaranya marah banget.”
Dina langsung melotot. “Sst! Jangan keras-keras, Ra! Itu urusan bos, kito dak usah ikut campur. Agek malah keno imbas.”
Raisa polos bertanya, “Apa ada hubungannya sama uang tunai 2 milyar Mbak Ceila kemaren?”
Dina lanjut menjelaskan, “Dulu sih kas kito dak pernah kering mak ini. Tapi sejak Pak Haris sering bolak-balik Jakarta katonyo ‘koordinasi proyek’, tiap ado duit masuk besar langsung lenyap lagi. Aku dak berani nanyo.”
Wulan yang senior menengahi. “Sudahlah! Yang penting kita kerjo benar, gaji masuk. Udah, titik.”
Raisa mengangguk, tapi matanya masih penuh tanya. Dia semakin penasaran dengan “rahasia kota kecil” yang pernah disebut Arya.
-----
Tak lama, Arya datang. Wajahnya tampak lusuh, mata agak sembab—sepertinya semalam susah tidur. Dedi dan langsung menyambut di parkiran.
“Makmano, Arya? Kantor wilayah lah konfirmasi?”
Arya menggeleng lelah. “Belum, Pak Dedi. Pak Haris bilang masih nunggu telpon balik. Kas kito tetap kurang sampai Jumat.”
Pak Dedi menghela napas. “Gawat nian ini! Kalu nasabah besak cak Celia ngamuk, pacak heboh.”
Arya masuk ke dalam, langsung dipanggil Haris ke ruangan.
Di dalam, Haris duduk dengan wajah tegang. “Arya, gimana hasilnya? Sudah temui Ibu Celia?”
Arya menunduk. “Sudah, Pak. Saya sudah hubungi Bu Celia dan ketemu semalam di alun alun. Saya sudah sampaikan, bahwa prosedur butuh sampai Jumat. Tapi dio ngotot. Katonyo, siang ini nak datang lagi, kalu kito nggak ada uangnya, dio bawa wartawan lokal. Dio nak ekspos bank kito yang dak amanah.”
Haris memukul meja pelan. “Sialan! Wilayah nggak bisa percepat. Kamu harus bujuk dia lagi, Arya. Bilang apa saja—minta maaf, janji bonus, apo lah. Pokoknyo jangan sampe dio datang hari ini!”
Arya mengangguk, tapi kecurigaannya semakin kuat. Hape Pak Haris berbunyi, ia mengangkatnya.
“Iya, Bang. Gimana?” lantas Pak Haris bergegas keluar sambil mengingatkan Arya. “Kamu tunggu di situ, Arya!”
“Baik, Pak!” Arya menurut saja.
Sepeninggal Haris, Arya tanpa sengaja melihat laporan internal kas di laptopnya Haris yang ada di meja. Ia melihat catatan aneh: transfer keluar besar ke rekening pribadi “teman” Haris, kredit tanpa agunan nyata. Fiktif. Pikir Arya:
“Setoran Fajar dan nasabah besar lain memang masuk rutin. Tapi ngapo tiap minggu ado transfer keluar besar ke rekening-rekening aneh… Totalnyo lah hampir 3 milyar dalam 6 bulan terakhir. Pantas bae kas harian selalu tipis.”
Arya membeku. Kini dia tahu: Bapak Haris telah meminjamkan dana bank secara curang ke temannya, membuat kas cabang kosong.
Haris selesai telpon, dan mempersilahkan Arya keluar. Haris mengingatkan, bahwa Bank Aman adalah tempat mereka bekerja, dan mereka harus menjaga nama baiknya.
Arya keluar ruangan, duduk di loketnya sambil memandang layar komputer kosong.
-----
Siang itu, bank mulai ramai. Nasabah antre seperti biasa. Raisa melayani dengan senyum, tapi sesekali melirik Arya yang murung. Fajar datang lagi, kali ini pura-pura setor kecil tapi sebenarnya ngobrol lama dengan Raisa.
“Eh, Ra. Malam ini ke alun alun, yuk. Aku jemput,” ajak Fajar sambil nyengir.
Raisa tersipu. “Wah, gimana ya, Kak. Saya lihat situasi dulu ya.”
Arya mendengar sekilas, hatinya sedikit kesal—entah kenapa.
-----
Sementara antrean semakin panjang, aktivitas di bank tak berhenti di situ. Seorang nasabah baru mendekati loket Raisa, seorang bapak paruh baya dengan tas ransel usang dan topi petani yang sudah pudar. Namanya Pak Joko (50 tahun), petani sawah dari KECAMATAN BELIDA yang agak jauh lokasinya dari kota Gelumbang. Jika Gelumbang dikelilingi kebun karet, di daerah kecamatan Belida banyak persawahan. Dia menyerahkan buku tabungan lama yang halamannya sudah menguning.
“Selamat siang, Dek. Saya mau ambil uang pensiun bulan ini. Tapi katonyo sekarang pakai aplikasi, ya? Saya ini gaptek, Dek. Anak saya menyuruh saya ke sini, belajar online banking,” katanya dengan aksen kampung yang kental, sambil menggaruk kepala.
Raisa tersenyum lebar, langsung empati. “Wah, Pak Joko. Tenang aja, Pak. Saya ajarin pelan-pelan. Ini buku tabungannya dulu saya cek ya.”
Sambil memproses penarikan, Raisa menjelaskan langkah demi langkah cara install aplikasi mobile banking di HP Android milik Joko yang sudah agak lambat. “Lihat nih, Pak. Klik ini, masukin nomor rekening, lalu verifikasi SMS. Gampang kan?”
Joko mengangguk-angguk, matanya berbinar. “Wah, adek ini sabar nian. Makasih ya, Dek. Sekarang di kecamatan Belida lagi musim tanam. Kagek kalu panen sawah bagus, saya akan menabung lebih banyak lagi!”
Raisa tertawa kecil. “Amin, Pak. Semoga panennya melimpah!”
Dari loket sebelah, Dina melirik dan berbisik ke Wulan. “Raisa ini cocoknyo jadi guru TK, bae. Sabarnyo luar biasa.”
Wulan nyengir. “Baguslah, nasabah cak Pak Joko itu yang bikin bank kito ramah.”
Tak lama setelah Joko pergi, datang nasabah unik lain: seorang remaja perempuan berusia sekitar 17 tahun, bernama Sinta, dengan seragam SMA dan backpack penuh stiker band K-pop. Dia mendekati loket Arya, wajahnya cemas sambil memegang slip transfer.
“Kak, aku nak kirim duit ke Jakarta. Untuk bayar kosan kakak ku yang kuliah di sano. Tapi... ini pertamo kali aku transfer sendiri. Takut salah nomor rekening,” katanya pelan, suaranya gemetar sedikit.
Arya yang tadinya murung langsung beralih ke mode profesional. “Tenang aja, Dik. Saya bantu verifikasi. Nomor rekeningnya ini ya? Saya cek dulu di sistem.”
Sambil memproses, Arya menjelaskan tips aman transfer: “Selalu double-check nomor dan nama penerima. Jangan percaya kalau ada yang telpon bilang transfer salah—itu bisa modus penipuan.”
Sinta mengangguk lega. “Wah, mokasih nian, Kak! Aku tadi deg-degan nian. Kalu salah, pacak duit jajan sebulan hilang.”
Arya tersenyum tipis, untuk pertama kalinya hari ini. “Sama-sama. Kalau ada apa-apa, balik lagi aja ke sini.”
Raisa yang mendengar dari loket sebelah, melirik Arya dengan kagum. “Kak Arya sabar juga ya sama anak muda,” gumamnya dalam hati, kagum.
Antrean terus berlanjut. Kali ini, seorang ibu muda bernama Bu Rina (28 tahun) mendekati loket Wulan, tapi akhirnya dialihkan ke Raisa karena antrean panjang. Rina membawa bayi kecil yang rewel di gendongannya, sambil menyerahkan formulir pembukaan rekening baru.
“Dek, aku mau buka rekening untuk tabungan pendidikan anak. Tapi bayinyo lagi cranky nih, maaf yo kalu berisik,” katanya sambil mengayun-ayun bayi.
Raisa langsung sigap. “Wah, lucu banget bayinya, Bu Rina! Saya usahakan proses cepat. Ini formulirnya sudah lengkap. Mau tabungan berjangka atau reguler?”
Sambil memproses, Raisa bahkan ikut menghibur bayi dengan suara lucu. “Iiiy, bayi pintar! Mama lagi urus masa depanmu nih.”
Rina tertawa. “Adek ini seperti babysitter profesional. Makasih ya.”
Dina yang melihat, geleng-geleng kepala sambil tersenyum. “Raisa ini bikin bank kito cak daycare, tempat penitipan anak.”
Tak berhenti di situ, nasabah berikutnya adalah seorang pemuda eksentrik bernama Andi (30 tahun), seniman lokal yang dikenal dengan lukisan abstraknya. Dia datang ke loket Arya dengan membawa amplop tebal berisi uang kertas campur aduk, dari pecahan kecil sampai besar.
“Kak, aku nak setor ini. Hasil jual lukisan di pameran kemarin. Tapi tolong hitung ulang yo, aku takut kurang—aku dak jago matematika,” katanya sambil tersenyum lebar, rambut gondrongnya acak-acakan.
Arya mengangguk, mulai menghitung dengan mesin hitung uang dan manual. “Oke, Kak Andi. Saya hitung dulu. Wah, lumayan nih, hampir 5 juta.”
Sambil menunggu, Andi cerita panjang lebar tentang lukisannya yang terinspirasi dari banjir di Sumatera beberapa minggu lalu. “Bayangke bae, Kak. Air banjir itu cak metafor kehidupan—datang tibo-tibo, bikin chaos, tapi setelahnya tanah subur lagi.”
Arya mendengar sambil tersenyum kecil. “Menarik, Kak. Mungkin suatu saat saya mampir ke galeri Anda.”
Andi antusias. “Wajib! Aku kasih diskon khusus buat pegawai bank yang sabar cak Kakak ini.”
Raisa dari sebelah, ikut mendengar dan tertawa dalam hati. Hari ini, bank terasa lebih hidup dengan nasabah-nasabah unik ini—dari petani gaptek, remaja cemas, ibu dengan bayi, sampai seniman cerewet.
-----
Tiba-tiba, sekitar pukul 13.00, pintu bank terbuka. Celia datang lagi. Di belakangnya, terlihat seorang pria muda membawa kamera—wartawan!
Semua karyawan panik bisik-bisik. Haris buru-buru turun.
Celia mendekat ke loket, suaranya lantang. “Mana uang saya, Pak? Kalau nggak ada, wartawan ini siap liput!”
Haris pucat. Arya (yang sudah tahu kecurangan Haris) menatap bosnya tajam.
Dalam hati Arya: “Inikah... Akhir dari 'Bank Aman'?”
Ekspresi wajah Arya dan Raisa TEGANG.
BERSAMBUNG...
=====
EPISODE 2
Oleh: Lolo Tukang Ketik
-----

Komentar
Posting Komentar