Yang Aman untuk Hati
Senin (malam Selasa) itu, Rumah Sakit Umum Daerah Gelumbang (RSUD Gelumbang) ramai. Bau antiseptik bercampur aroma gorengan dari pedagang kaki lima di depan gerbang. Lampu ruang IGD menyilaukan, suara tangisan bayi dan batuk pasien tua bergema di koridor panjang.
Raisa terbaring di brankar sementara, mata setengah terpejam, kepala pusing berputar. Lecet di lengan dan lutut kanannya sudah dibersihkan perawat, tapi yang lebih sakit adalah dada yang sesak—bukan karena jatuh, tapi karena hari yang terlalu berat: twist email anonim yang ternyata sia-sia, promosi Arya yang seperti tamparan, dan pertengkaran di rooftop yang masih terngiang.
Fajar duduk di kursi plastik biru tua di samping brankar, tangannya memegang tangan Raisa, erat.
“Ra, kamu denger aku? Dokter bilang, cuma lecet ringan samo kelelahan akut. Caknyo lah boleh balek, asal kamu istirahat total.” ekspresi wajah Fajar nampak cemas, meski dia sudah berusaha terlihat tenang.
Raisa membuka mata pelan, suaranya lemah. “Makasih, Jar… maaf merepotkan.”
Fajar menggeleng cepat, matanya berkaca-kaca tapi cepat disembunyikan. “Jangan ngomong mak itu. Aku yang salah dak jemput lebih awal. Mulai sekarang, aku antar-jemput kamu tiap hari begawe, yo? Dak boleh nolak.”
Di luar ruangan, Lestari mondar-mandir sambil menelepon saudara-saudara, suaranya campur khawatir dan lega. “Iyo, cuma lecet bae. Alhamdulillah idak parah. Fajar yang bawa ke sini, uwongnyo sigap nian.”
Malam itu, setelah observasi singkat, Dokter memperbolehkan Raisa pulang dengan resep obat penghilang nyeri dan vitamin penambah darah. Fajar menggendong Raisa ke mobil Fortuner-nya lagi—meski Raisa protes lemah, “Aku bisa jalan sendiri, Jar”.
Mobil (berisi Fajar, Raisa dan Lestari) tinggalkan RSUD.
-----
Hari-hari berikutnya terasa seperti kabut bagi Raisa. Dia cuti magang tiga hari atas rekomendasi dokter, berbaring di kamar sederhana dengan jendela menghadap kebun karet. Tubuhnya cepat pulih—lecet mengering, memar memudar—tapi hati masih terasa remuk.
Fajar datang setiap sore setelah urusan usaha karet selesai. Membawa bubur ayam spesial dari warung langganan, buah potong segar, bahkan es krim kemasan besar yang dia tahu Raisa suka sejak kecil. Mereka duduk di teras kecil, Fajar cerita ringan tentang hari-harinya: harga karet naik lagi, papinya mau ekspansi ke lahan baru, rencana liburan ke Danau Ranau kalau Raisa sudah sehat.
“Gelumbang ini kecil, Ra. Tapi kalu ado uwong yang sayang, rasonyo luas nian,” kata Fajar suatu sore sambil menyendokkan bubur ke mangkuk Raisa.
Raisa tersenyum kecil, untuk pertama kalinya tanpa dipaksa. “Kamu nggak capek bolak-balik ke sini?”
Fajar menggeleng, matanya serius. “Capek sih, tapi seneng. Aku mau kamu tahu, aku serius.”
Lestari, yang selalu ada di latar belakang, tak henti-hentinya “kampanye”. Saat Fajar pulang, Lestari duduk di samping tempat tidur Raisa, mengelus rambut anaknya.
“Fajar itu istimewa, Sayang. Ganteng, mapan, sabar. Mama lihat dia benar-benar sayang sama kamu. Di kota kecil ini, susah cari yang kayak gitu. Jangan sia-siakan.”
Raisa diam, tapi kata-kata itu mulai meresap.
Hari ketiga (Kamis), Bu Wulan datang kunjungan membawa sekotak martabak manis dan bubur sumsum hangat. Senior kasir yang sudah 7 tahun di bank itu duduk di kursi kayu reyot, matanya penuh kasih sayang seperti kakak.
“Oi, budak magang. Katonyo jatuh motor? Hati-hati lah, jalan parkiran bank licin kalu abis hujan.”
Raisa tersenyum lemah.
Wulan menghela napas panjang, lalu bicara pelan tapi tegas—nasehat ikoniknya yang selalu diulang-ulang di kantor.
“Raisa. Hidup ini sederhana: kerjo bener, digaji, punyo pasangan tenang—udah, titik. Jangan kebanyakan drama, agek malah pening dewek. Ayuk ni lah lihat banyak di bank tempat kito begawe: yang ambisius naik jabatan cepat, tapi rumah tangga berantakan. Yang pengen bongkar rahasia bos, akhirnyo dio dewek yang repot. Pilih yang aman-aman bae untuk hati kamu, Raisa.”
Raisa menunduk, tak sadar air mata menetes pelan. “Bu Wulan… aku capek.”
Wulan memeluknya pelan.
-----
Di sisi lain kota, Bank Aman Cabang Gelumbang mulai terasa seperti kapal yang bocor pelan. Kamis siang, 2 Intel Preman yang sama datang lagi—kali ini membawa map tebal dan surat resmi bermaterai. Mereka langsung naik ke ruangan Haris, pintu ditutup rapat dua jam lamanya.
Saat keluar, wajah Haris pucat seperti kertas. Dia mengumumkan rapat dadakan sore itu—tanpa senyum profesional seperti biasa.
“Pak Hadi resmi jadi tersangka money laundering nasional. Cabang kita diminta serahkan semua data transaksi dua tahun terakhir. Saya akan kooperatif penuh—ini demi nama baik bank,” katanya datar, tapi tangannya gemetar memegang map.
Dina dan Eko saling pandang curiga. Setelah rapat, mereka bertengkar hebat di rooftop—Eko tuduh Dina terlalu loyal buta, Dina balas Eko terlalu penakut. Kini, keduanya mulai cari-cari bukti untuk saling lindung.
Haris sendiri panik. Sore kamis, dia hubungi Azwar lewat telepon, suaranya memohon.
Azwar menjawab dingin. “Maaf, Ris. Kali ini urusannya sudah nasional. Saya nggak mau keluarga saya terseret. Urus sendiri.”
Telepon ditutup. Haris duduk sendirian di ruangannya yang gelap, pertama kalinya merasa benar-benar terpojok.
-----
Arya tak bisa diam. Sejak kecelakaan Raisa, dia tak bisa tidur nyenyak. Ponselnya penuh panggilan tak terjawab dan pesan yang tak dibaca—semuanya diblokir. Kamis sore, setelah bank tutup, Arya di parkiran motor memandangi spion-nya (tak ada cermin karena pecah) yang belum juga diganti. Memandang spion itu seperti mengingat kembali awal pertemuannya dengan Raisa. Arya menghela nafas sejenak, untuk kemudian pergi.
Malam itu, pintu rumah Lestari dibuka, ternyata Arya yang datang.
"Malam, Tante!"
“Selamat malam, Nak Arya. Mau ketemu Raisa?”
Lestari menghela napas pelan, tangannya memegang gagang pintu lebih erat.“Maaf ya, Nak. Raisa lagi butuh tenang total. Dokter bilang jangan diganggu pikiran berat. Dia sudah cukup lelah dengan kerjaan magang. Nanti kalau sudah sehat, Tante bilang ke dia ya.”
Arya menunduk, suaranya serak. “Baik, Tante. Tolong sampaikan… Saya benar-benar menyesal.”
Arya berbalik, naik motor lagi, melaju di jalan gelap tanpa tujuan.
-----
Raisa nampak duduk di teras belakang, tempat motornya diparkir. Udara Gelumbang sejuk, bintang-bintang terlihat jelas. Raisa sendirian, lantas mendekati spion motor pink metaliknya yang kacanya retak. Retakan itu seperti sarang laba-laba, tapi Raisa ingat betul bagaimana Arya waktu itu hanya bilang “dak apo-apo” sambil tersenyum kaku.
Raisa tersenyum kecil, pahit.
Ponsel bergetar. Pesan dari Fajar:
“Besok Jumat aku antar yo, kamu berangkat begawe? Balek begawe, aku jemput. Kito ke alun-alun, makan pempek langganan Mama. Terserah kamu nak apo, ngomong bae! Yang penting kamu cepat sehat. Aku khawatir kalu kamu belum sembuh nian."
Raisa menatap layar lama. Jari di atas keyboard, ragu sebentar.
Akhirnya dia ketik:
“Oke, Jar. Aku mau kenal Gelumbang lebih detil lagi.”
Rasa di hati Raisa seperti bimbang, antara perhatian yang diberikan Fajar, atau "spion retak" yang mengingatkannya akan Arya. Sesaat hening. Lantas Raisa melangkah gontai tinggalkan motor matic yang spionnya retak tersebut, tapi...
Raisa berhenti, lantas berbalik menatap retakan spion itu sekali lagi, sesaat terpaku, hingga kemudian masuk rumah.
Di dalam hatinya, dia tahu: besok, dia akan mulai memilih yang aman.
Tapi apakah “aman” itu benar-benar yang dia inginkan?
SEKIAN.
=====
EPISODE 8
Oleh: Lolo Tukang Ketik
-----

Komentar
Posting Komentar