Estimasi Pengkhianatan





Kamis pagi di Bank Aman Cabang Gelumbang terasa lebih dingin dari biasanya. Udara AC yang baru dinyalakan bercampur bau kopi instan Siti, tapi tak cukup menghangatkan suasana. Arya dan Raisa baru saja keluar dari ruang arsip berdebu di lantai dua, wajah mereka tegang setelah curhat panjang tentang rahasia keluarga Arya dan kecurigaan terhadap kredit fiktif Haris. Pintu ruang arsip tertutup pelan di belakang mereka.

Arya dan Raisa kaget, seakan ada yang mengintip mereka sejak tadi.

Saat menuju ke lorong utama, keduanya langsung membeku.

Haris berdiri di ujung lorong, memegang map tebal laporan harian. Matanya tajam menatap mereka berdua, senyum tipis terukir di bibirnya—seperti singa yang sudah mengintai mangsa sejak lama.

“Eh, kalian berdua di sini? Rapat dadakan ya? Kok dak ngomong-ngomong?” tanyanya dengan nada santai yang terlalu dibuat-buat.

Arya langsung menelan ludah, tangannya mengepal pelan di saku celana. “Cuma diskusi kecil soal prosedur CS, Pak. Raisa kan masih magang, jadi aku ajarke sedikit.”

Raisa mengangguk cepat, senyumnya dipaksakan hingga pipinya kaku. “Iya, Pak. Kak Arya bantu saya pahami arsip lama. Maaf kalau ganggu.”

Haris mengangguk pelan, tapi tatapannya seperti menusuk tulang. Matanya melirik pintu ruang arsip sebentar, "seolah-olah" tahu persis apa yang baru saja terjadi di dalam sana.

“Baguslah. Semangat belajar itu penting. Tapi lain kali, kalu ado yang penting, lapor ke saya dulu ya. Bank ini kecil, rahasia gampang bocor.” Dia berlalu dengan langkah tenang menuju ruangannya, tapi kata-kata terakhirnya menggantung berat di udara.

Arya dan Raisa saling pandang, wajah mereka pucat. Dalam hati Arya bergumam: Apa dia dengar? Kalau iya… kita dalam bahaya besar.

-----

Pukul 08.00 tepat, roller shutter naik, bank resmi buka. Nasabah rutin mulai berdatangan— Bu Sari dengan kantong receh, pegawai negeri yang ambil gaji, dan beberapa anak muda yang bayar tagihan online. Tapi hari ini, fokus bukan di loket. Di belakang ruang karyawan kecil, suasana lebih panas dari biasanya.

Dina dan Wulan sedang minum kopi di pojok, bisik-bisik seperti biasa.

“Kemaren Buk Celia ribut besar, tapi hari ini sepi nian. Pak Haris caknyo lagi tegang nih,” kata Dina pelan, matanya sesekali melirik ke arah lantai dua.

Wulan menggeleng pelan. “Sst! Jangan ikut campur terlalu dalam."

Dina, "Aku heran. Arya samo Raisa juga aneh sejak tadi pagi. Cak lagi sembunyi-sembunyian.”

Siti lewat sambil membawa nampan kopi panas, seperti biasa, kali ini dia menyanyikan lagu Rhoma Irama, "syahdu". "Kuyakin ini semua, perasaan... Cinta. Tetapi hatiku malu..."

Dedi, yang baru masuk dari parkiran belakang, berpapasan dengan Siti yang justru menghilang ke belakang sambil terus bersenandung.

"Lain nian penggemar berat Rhoma Irama ini. Tiada hari tanpa nyanyi lagu Rhoma," celetuk Dedi yang bergabung dengan Wulan dan Dina.

“Hati-hati semua. Aku tahu Pak Haris uwongnyo ambisius, tapi kalu ada yang salah dengan bank ini, pacak keno kito galo galo. Arya, kamu cakmano?”

Arya yang kebetulan lewat membawa laporan pagi, berhenti sejenak. “Dak apo-apo, Pak. Cuman capek bae.” Tapi matanya berbinar—dia butuh sekutu, dan Pak Dedi tampaknya paling bisa dipercaya.

-----

Di loket, Dina melirik curiga ke arah Arya dan Raisa yang sedang menyiapkan komputer. Senyumnya tipis, hampir sinis.

Dina lantas menghampiri Eko. Mereka berdua pergi tinggalkan tempat itu, tanpa disadari oleh yang lain.

-----

Menjelang siang, interkom berbunyi. Haris memanggil rapat dadakan di ruang rapat kecil lantai dua. Semua karyawan wajib hadir: Arya, Raisa, Dina, Wulan, Eko, Siti (yang jarang sekali ikut rapat), serta Dedi dan Budi sebagai satpam. Ruangan kecil itu terasa sesak, aroma keringat bercampur parfum murah dan kopi instan.

Haris berdiri di depan, memegang print-out laporan tebal. Wajahnya serius, tapi ada kilau ambisi di matanya.

“Hari ini kita evaluasi performa internal,” katanya tegas. “Bulan lalu target setoran naik 10%, bagus. Tapi keluhan nasabah juga naik 8%. Arya, kamu sebagai CS senior, harus lebih ketat awasi tim. Jangan sampai ada yang lengah.”

Arya mengangguk sopan, “Iya, Pak".

Tapi dalam hati Arya kesal, sebab kas cabang kemarin hampir kosong gara-gara penarikan besar Celia. "Apa nggak ada masalah internal yang perlu dibenahi?” tanya Arya dalam hati.

Haris tersenyum profesional. “Ah, kamu. Yang penting kan masalah dengan Ibu Celia sudah teratasi. Pokoknya, mulai sekarang, semua akses arsip dan data sensitif harus lapor ke saya dulu. Nggak boleh sembarangan masuk ruang arsip lagi.”

Raisa dan Arya saling lirik pelan—pesan ini "seakan" ditujukan untuk mereka.

Dina langsung angkat tangan, suaranya manis tapi tegas. “Benar sekali, Pak. Kita harus solid. Apalagi audit wilayah minggu depan katanya ketat banget. Kalau ada yang bocor info salah, bisa repot semua.”

Haris mengangguk puas ke arah Dina. “Betul, Dina. Makanya saya janji: kalau target bulan ini tercapai, bonus akhir bulan naik 20% untuk semua. Tapi kalau ada yang main-main atau… menggali hal-hal yang nggak perlu…” Matanya melirik Arya sekilas, lalu Raisa. “Bisa-bisa kita semua rugi.”

Rapat bubar dalam suasana tegang. Di lorong, Dedi langsung tarik Arya ke samping saat yang lain sudah turun.

“Ya, ngapolah aku makin curiga samo Pak Haris? Aku lihat dio cek rekaman CCTV ruang arsip. Apo kalian lagi selidiki kredit fiktif itu?”

Arya mengangguk pelan, suaranya hampir berbisik. “Iyo, Pak. Aku pernah lihat sekilas di laptopnyo. Tapi butuh bukti lebih kuat. Malam ini setelah tutup, bantu aku cek arsip lamo, yo? Bapak kan punya kunci cadangan.”

Pak Dedi menghela napas, namun akhirnya setuju. “Oke. Tapi hati-hati. Dina tadi pecaknyo paling semangat dukung Pak Haris. Jujur bae, aku dak percayo dio 100%.”

Arya mengangguk. Kecurigaan itu mulai menjalar.

-----

Siang hari, bank tetap ramai seperti biasa. Antrean nasabah mengular dari loket CS hingga mendekati pintu kaca otomatis, meski pelayanan berjalan lebih singkat dari hari-hari biasa—semua karyawan seperti punya firasat bahwa ada sesuatu yang lebih penting terjadi di balik layar. Bau kertas formulir baru bercampur aroma kopi instan dan keringat tipis para nasabah yang sabar menunggu giliran. Di luar, matahari Gelumbang menyengat, membuat kaca depan bank memantulkan sinar yang menyilaukan.

Raisa duduk di loketnya, senyum cerah tetap terpasang seperti biasa—senyum yang sudah jadi senjata andalannya sejak hari pertama magang. Rambut ponytail-nya rapi, kemeja putih masih kinclong meski sudah setengah hari. Tapi pikirannya melayang jauh ke Arya: wajahnya yang muram pagi tadi, bisikan tentang “malam ini kita action”, dan sentuhan tangan tadi di bawah meja loket yang membuat jantungnya masih berdegup tak karuan.

Nasabah pertama yang dia layani siang itu adalah Pak Slamet (40 tahun), seorang sopir truk antarprovinsi yang badannya besar dan suaranya keras. Dia datang dengan seragam kerja yang masih berdebu, membawa amplop tebal berisi uang tunai hasil bongkar muatan di pelabuhan.

“Siang, Dek. Ini mau disetor semua. Capek nian aku baru balek dari Surabaya semalam,” katanya sambil menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju.

Raisa langsung menghitung uangnya dengan mesin, sambil ngobrol ringan. “Wah, jauh ya Pak. Barang apa yang diangkut kali ini?”

Slamet cerita panjang tentang muatan pupuk yang hampir tertinggal di tol karena macet, istri yang ngomel karena dia jarang pulang, dan rencana beli motor baru buat anaknya yang baru lulus SMK. Raisa mendengarkan sambil angguk-angguk, tapi pikirannya sesekali melayang ke ruang arsip nanti malam. Kalau ketahuan, apa Pak Slamet dan nasabah lain bakal kehilangan tabungannya?

Setelah Slamet pergi dengan buku tabungan baru yang sudah update, giliran Mbak Winda (30 tahun), seorang perawat di RSUD GELUMBANG. Dia datang masih pakai seragam putih yang agak kusut, tas jinjingnya penuh botol obat dan stetoskop mengintip di saku.

“Mbak Raisa, tolong bantu bayar tagihan listrik sama PDAM ya. Shift malam tadi panjang nian, mano pasien banyak,” katanya sambil menguap kecil.

Raisa proses tagihan-tagihannya dengan cepat, sambil kasih semangat. “Sabar ya Mbak. Perawat itu pahlawan banget. Sudah makan belum?”

Winda tersenyum lelah, lalu curhat tentang gaji yang telat masuk bulan ini karena administrasi rumah sakit ribet, dan rencana nabung buat kursus spesialis anak. Raisa ikut prihatin, tapi lagi-lagi pikirannya kembali ke Arya. Kalau bank ini bermasalah, apa gaji Mbak Winda dan orang-orang kayak dia bakal terganggu?

Di loket sebelah, Arya sedang bantu seorang mekanik bengkel bernama Mas Bayu (35 tahun) yang tangannya hitam oli permanen. Bayu mau ajukan kredit motor baru buat operasional bengkelnya, tapi berkasnya kurang lengkap.“Kak, surat agunan tanahnya belum ado fotokopiannya. Besok dibawa lagi yo?” kata Arya sabar.

Bayu menggaruk kepala. “Ya Allah, ribet nian. Padahal bengkel lagi rame, butuh motor cepat buat antar sparepart.”

Raisa memperhatikan dari sudut mata—Arya yang biasanya pendiam ternyata bisa begitu telaten menjelaskan syarat kredit sambil kasih solusi alternatif. Hatinya hangat, tapi juga cemas.

Antrean berlanjut. Datang lagi Bu Ratna (40 tahun), seorang guru honorer SD di pinggiran kota. Dia bawa map tebal berisi slip gaji kecil-kecilan, mau buka rekening khusus buat tabungan hari tua.

“Dek, bantu buka rekening baru ya. Gaji honorer kecil, tapi harus disiplin nabung,” katanya dengan suara lembut tapi tegas.

Raisa bantu isi formulir, sambil jelaskan produk tabungan berjangka. Ratna cerita tentang murid-muridnya yang banyak orang tuanya petani miskin, dan mimpi punya rumah sendiri sebelum pensiun. Raisa tersentuh, tapi pikirannya tetap ke malam nanti: Kalau kredit fiktif Pak Haris terbongkar, apa tabungan Bu Ratna aman?

Di tengah keramaian itu, Fajar datang lagi. Kali ini pura-pura setor kecil, tapi matanya langsung cari Raisa. Dia berdiri di depan loket dengan senyum kinclong, jas rapi seperti biasa.

“Siang, Raisa. Lagi sibuk yo? Eh, malam ini jadi kan ke alun-alun? Aku jemput jam 7,” katanya langsung to the point.

Raisa tersenyum profesional, tapi hatinya berdegup lain. Dia ingat peringatan Haris—harus ramah sama nasabah prioritas. “Iya, Kak Fajar. Tapi lihat situasi dulu ya, masih banyak kerjaan.”

Fajar nyengir lebar. “Tenang bae, aku tunggu. Eh, ini setor kecil dulu.”

Arya yang duduk di loket sebelah mendengar jelas, entah kenapa perasaan di hatinya mulai ada cemburu. Wajahnya sedikit tegang, tapi Arya pura-pura sibuk dengan komputer. Raisa meliriknya sekilas, merasa bersalah—tapi apa boleh buat, ini bagian dari “strategi bank” kata Pak Haris.

Sepanjang siang itu, nasabah datang dan pergi: seorang penjahit rumahan yang nabung buat beli mesin obras baru, seorang satpam mall yang transfer buat biaya sekolah anak, seorang mahasiswa yang baru dapat beasiswa dan mau buka rekening pertama, sampai seorang pemilik warung kopi kecil yang setor hasil dagang harian. Raisa layani semua dengan sabar dan senyum cerah, tapi di dalam hatinya ada badai kecil: campuran takut akan malam nanti, harap bukti cukup kuat, dan perasaan baru yang semakin jelas setiap kali memandang Arya.

Saat jarum jam menunjukkan pukul 14.30 dan antrean mulai agak lengang, Raisa akhirnya bisa tarik napas panjang. Dia minum air mineral dari botol kecil di laci, lalu melirik Arya lagi. Arya membalas tatapan itu dengan senyum tipis—senyum yang bilang “kita pasti bisa lewati ini bersama”.

Tapi di balik senyum itu, keduanya tahu: sore ini akan terasa sangat panjang, dan malam nanti bisa mengubah segalanya.

-----

Saat loket sepi sebentar, Arya mendekat dan berbisik dari loket sebelah sambil menyerahkan sebuah alamat email di catatan kecil. "Ra, ini email whistleblower dari kantor wilayah. Kalo malam nanti kito dapat bukti, kirim ke alamat ini!"

Raisa memandang secarik kertas itu.

“Tapi hati-hati, Pak Haris caknyo lagi mantau kito ketat.” sambung Arya.

Raisa mengangguk, wajahnya cemas. “Kak, kalu ketahuan? Aku baru magang, biso langsung dipecat.”

Arya memandangnya lembut, lalu tanpa banyak orang lihat, memegang tangan Raisa pelan di bawah meja loket. “Kito lakukan bareng. Ini buat keadilan—buat ayahku, buat nasabah yang percaya samo bank ini, dan buat kito yang seharusnya kerjo di tempat yang ‘aman’. Inilah ngapo bank ini dienjuk namo, 'Bank Aman'".

Raisa tersenyum kecil, jantungnya berdegup lebih kencang—bukan hanya karena takut.

Di pojok ruang karyawan, Wulan mendekati Dina yang sedang istirahat. “Dina, kamu notice dak? Arya samo Raisa deket nian sekarang. Cak lagi rencano apo gitu.”

Dina nyengir tipis, matanya menyipit. “Mungkin lagi pacaran kali, Bu. Namonyo bae budak mudo. Tapi iyo, aneh. Eh, tadi Pak Haris ngomong nak promosike satu orang jadi wakil kepala cabang. Katonyo yang paling loyal dan pacak jago rahasia bank.”

Wulan mengangkat alis. “Siapolah kiro-kiro?”

Dina mengangkat bahu, tapi senyumnya penuh percaya diri. “Entahlah. Yang jelas, aku sih selalu dukung keputusan Pak Haris. Dio yang bikin cabang ini survive selama ini.”

Wulan hanya mengangguk, "Kalu aku dak mimpi jadi Wakil Kepala Cabang. Jabatan sekarang bae jadilah, yang penting kerjo aku benar, digaji, selesai, titik."

-----

Sore menjelang tutup bank, pukul 16.30. Haris memanggil Arya sendirian ke ruangannya. AC dingin menusuk kulit, meja Haris penuh dokumen dan laptop yang layarnya masih menyala.

“Duduk, Ya,” kata Haris ramah, tapi nada suaranya berat. “Aku tahu kamu orang bagus. Kerja keras, nasabah suka. Mangkonyo aku tawarin: bantu aku capai target bulan ini sepenuhnya, aku promosike kamu jadi wakil kepala cabang. Gaji naik 40%, bonus lumayan.

Arya tegang, tangannya dingin. “Terima kasih, Pak. Tapi… apa syaratnyo?”

Haris tersenyum tipis, matanya tajam. “Selalu ado cerito di arsip lamo, cuman pinta aku, kamu jangan mengungkit-ungkit luka lamo. Kalu ado perlu ke tempat arsip, harus lewat aku dulu."

Arya membeku.

"Pokoknyo Kamu jangan macak-macak tanpa sepengetahuan aku. Aku tahu kamu orang pintar, Ya. Pasti paham mano yang lebih menguntungkan. Tolong jago amanah dari aku ini, Ya!"

Arya keluar ruangan dengan jantung berdegup kencang.

Ini konfirmasi: Haris belum tahu masa lalu Arya dan Pak Warsa. Haris lagi coba beli kesetiaan Arya.

Di loket, Dina mengintip Arya keluar dari ruangan Haris dengan wajah muram. Dia langsung kirim pesan WA ke seseorang, entah siapa.

-----

Malam itu, setelah roller shutter diturunkan dan lampu neon dimatikan satu per satu, bank tampak sepi. Haris sudah pulang duluan—katanya ada urusan keluarga. Siti mengunci pintu belakang lengkap dengan senandung salah satu lagu Rhoma Irama, lalu pulang dengan angkot malam.

Arya, Raisa, dan Dedi menunggu sampai benar-benar sepi, baru menyelinap kembali ke dalam lewat pintu samping yang kuncinya ada di Dedi. Lampu senter HP jadi satu-satunya penerang saat mereka masuk ke ruang arsip yang gelap dan berdebu. Mereka mengincar map.

“Dulu waktu renovasi kantor 2 tahun lalu, aku dewek yang bantu susun rak ini, jadi tahu mano yang jarang dibuka,” kata  Dedi.

“Ini dio,” bisik Dedi sambil menarik map tebal dari rak paling belakang. “Catatan kredit tahun lalu. Lihat—ado pinjaman ke PT Makmur Jaya, perusahaan temen Pak Haris. Agunan cuma surat tanah nominalnyo 800 juta, ini fiktik. Dak singkron dengan kredit 3 milyar selama 6 bulan terakhir.”

Raisa langsung foto dokumen-dokumen penting dengan HP-nya, tangannya gemetar karena excited sekaligus takut. “Ini bukti kuat banget, Kak! Kita bisa lapor ke kantor wilayah secara anonim.”

Arya mengangguk, tapi wajahnya serius. “Iyo, tapi kito butuh salinan digital semua. Besok—”

Tiba-tiba, suara pintu utama ruang arsip terbuka pelan. Lampu neon menyala mendadak.

Arya, Raisa dan Dedi terperanjat kaget. Tapi belum dijelaskan, siapa yang membuka pintu dan menyalakan lampu ruang arsip?

BERSAMBUNG...

=====

EPISODE 4

Oleh: Lolo Tukang Ketik

-----



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia Kota Kecil

Bayang-bayang Uang Tunai

Yang Aman untuk Hati