Krisis dan Rahasia Terungkap
Siang itu, Rabu, 13.00 WIB, suasana di lantai satu Bank Aman Cabang Gelumbang tiba-tiba membeku. Pintu otomatis terbuka dengan suara mendesis pelan, dan Celia Prameswari melangkah masuk dengan langkah tegas, gaun merahnya yang sama seperti kemarin bergoyang-goyang. Di belakangnya, seorang pria muda berpakaian kasual membawa kamera DSLR menggantung di leher—jelas-jelas wartawan lokal. Semua mata tertuju pada mereka. Nasabah yang sedang antre di loket membisik-bisik, sementara karyawan bank membeku di tempatnya.
Arya, yang sedang melayani nasabah kecil di loketnya, langsung menatap tajam ke arah Celia.
Raisa, di loket sebelah, membelalakkan mata, tangannya yang sedang memproses slip setoran terhenti.
Dina dan Wulan saling pandang, wajah mereka pucat. Bahkan karyawan lain seperti Rahayu dan Eko juga berhenti bekerja, menatap kejadian ini dengan campuran kaget dan takut. Nasabah-nasabah yang ada di ruang tunggu, termasuk seorang ibu rumah tangga dengan tas belanja dan seorang pemuda dengan headphone, ikut melirik penasaran.
Celia mendekat ke loket utama, suaranya lantang dan menggema di ruangan yang tiba-tiba sunyi. "Mana uang saya, Pak? Kalau nggak ada, wartawan ini siap liput! Bank Aman katanya, tapi amanahnya mana? Saya mau tarik 2 milyar tunai hari ini juga!"
Wartawan—yang kemudian diketahui bernama Mas Toni (39 tahun) dari koran lokal GELUMBANG POST—mengangkat kameranya, mulai mengambil foto-foto suasana. Flash-nya berkedip, membuat suasana semakin tegang. Arya merasa dilema besar membuncah di dadanya. Dia sudah tahu rahasia gelap Haris: kredit fiktif yang membuat kas bank kosong. Apakah dia harus membongkar semuanya sekarang, di depan semua orang? Itu berarti menghancurkan tempat kerjanya sendiri. Dia mungkin kehilangan pekerjaan, dan gagal mengobati luka lama keluarganya. Atau diam saja, dan biarkan bank ini terus berpura-pura?
Dari belakang, Siti yang sedang membersihkan sudut ruangan dengan lap basah, mengintip keributan itu. Matanya melebar, tangannya gemetar hingga lap jatuh ke lantai. "Astaga, ribut besar ini. Dak cukup kalu cuma pakai lirik Rhoma Irama, 'Stop perdebatan! Stop pertengkaran!' Aku harus kasih tahu Pak Dedi," gumamnya pelan. Tanpa pikir panjang, Siti menyelinap ke pintu belakang, menuju parkiran di mana Dedi yang sedang berjaga bersama Budi.
"Bik! Ado apo? Caknyo serius nian," tanya Dedi saat Siti muncul dengan napas tersengal.
"Gawat, Pak Dedi! Di dalam ado yang ribut. Celia yang kemaren nak ambik duit, hari ini bawak wartawan, dio ngancam nak ekspos bank kito. Pak Haris belum muncul!" cerita Siti sambil menepuk dada.
Dedi dan Budi langsung bergerak. Mereka masuk melalui pintu belakang, melewati koridor karyawan, dan muncul di lantai satu. Keduanya bersiaga, jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Saat itu, Haris sudah turun dari lantai 2 dengan langkah cepat, wajahnya tersenyum profesional tapi keringat dingin mengalir di dahinya. "Tenang, tenang semua! Bu Celia, mari kita bicarakan baik-baik," katanya dengan suara tenang, mencoba meredakan situasi.
Celia sempat mengamuk lagi, tapi melihat nasabah lain yang mulai gelisah—seorang bapak tua yang sedang menunggu giliran ambil pensiun malah berdiri dan bertanya, "Makmano, Buk? Bank ini aman apo idak?"— Celia mulai mereda. "Baiklah, tapi cepat! Saya nggak mau nunggu lagi," katanya sambil menyilangkan tangan. Haris mengajak Celia, Toni, dan Arya ke ruangannya di lantai 2, meninggalkan ruangan utama dimana orang-orang masih bergumam.
-----
Di parkiran belakang, Dedi dan Budi kembali ke pos mereka setelah melihat situasi sudah ditangani. Udara sore Gelumbang mulai panas, angin bertiup pelan membawa bau karet di sekitar.
Budi menyalakan rokok, menghembuskan asap sambil bersandar di motor dinasnya. "Pak Dedi tahu dak, aku kenal samo Buk Celia itu. Kami tetanggo-an. Aku di kampung samping komplek, Buk Celia di komplek perumahan elit," ceritanya tiba-tiba.
Dedi mengerutkan kening, penasaran. "Nah! Ngapo kau dak ngomong? Cubo ceritoke! Ado nian apo, Buk Celia bukan uwong sembarangan?"
Budi mengangguk, suaranya pelan seolah takut didengar orang. "Iyo. Kan dulu heboh, dio didugo pelakor. Pak Dedi pernah dengar, dak?"
"Ai kalu urusan yang mak itu dak pernah sampe ke kuping aku, Pak Budi." jelas Dedi.
Budi melanjutkan, "Dio itu bini keduo Pak Azwar, anggota DPRD KABUPATEN GELUMBANG yang merangkap pengusaha tambang."
Dedi kaget, matanya melebar. "Oooi Pak Azwar itu. Padahal Pak Azwar baek uwongnya, ngapo bininyo mak ini? Ai, caknyo kito harus ketemu Arya."
Budi heran, "Ngapo, Pak?"
"Payo! Jangan buang-buang waktu lagi!" Dedi buru-buru menarik Budi pergi dari tempat itu.
-----
Di ruangan Haris yang ber-AC dingin, suasana tegang seperti ruang pengadilan. Haris dan Arya duduk di seberang Celia dan Toni. Meja kayu di tengah dipenuhi dokumen dan secangkir kopi yang sudah dingin. "Bu Celia, tolong mengerti. Kas cabang kami terbatas. Kami bisa keluarkan 200 juta dulu hari ini, sisanya Jumat. Ini masih hari rabu," pinta Haris dengan nada memohon.
Celia menatap Haris tajam. “Saya dengar dari beberapa pengusaha lokal—termasuk suami saya—bahwa cabang ini akhir-akhir ini sering kekurangan kas. Saya ingin bukti bahwa Bank Aman masih amanah. Makanya saya minta tunai sekaligus. Kalau nggak bisa, berarti rumor itu benar.”
Haris tercekat kaget, Toni diam-diam merekam pembicaraan itu. Arya tak tahu harus bicara apa, bos-nya terpojok.
Haris berkeringat dingin namun tetap berusaha tenang, “Itu hanya rumor, Bu. Kami sedang koordinasi dengan wilayah.”
Arya yang sudah tahu kredit fiktif Haris diam saja, tapi dadanya sesak.
Tiba-tiba, ketukan pintu terdengar. Dedi masuk, wajahnya serius. "Maaf ganggu, Pak Haris. Saya perlu bicara sama Arya, penting sekali."
Haris mengangguk, meski ragu. "Baik, Arya. Cepat."
Di ruangan kecil sebelah—ruang arsip yang berdebu— Dedi mempertemukan Arya dengan Budi. "Begini, Arya. Pak Budi ado info penting soal Bu Celia," kata Dedi.
Budi mengulangi ceritanya: tetangga, istri kedua Azwar. Arya mendengar dengan teliti, matanya berbinar seperti menemukan ide.
-----
Arya langsung bergerak. Dia menemui Raisa di loketnya, yang sedang istirahat sebentar. "Ra, tolong telpon ini. Hubungi Pak Azwar, suami Bu Celia. Omongke urusan penting dari bank."
Raisa bingung tapi mengangguk.
Sementara itu, di ruangan Haris, ia coba bernegosiasi sambil mengecek pesan di ponsel-nya. "Nah, Buk Celia. Saya sudah hubungi lantai 1, kata mereka lah dikumpul-kumpulkan, ternyata kalo 300 juta cash ada. Naek 100 juta dari 200 juta tadi."
Celia kesal, "Nggak bisa. Saya bilang 2 milyar tunai, harus 2 milyar, dong. Saya ini bukan orang yang bisa kalian bodohi, Pak!"
Di lantai 1, Arya berhasil terhubung dengan Azwar via telepon Raisa. "Pak Azwar, ini Arya dari Bank Aman. Ado masalah sedikit dengan istri Bapak."
Kembali ke ruangan, Haris bernegosiasi lagi: "Adanya hari ini segitu, Buk. Sisanya kami transfer besok, saya udah dapat khabar dari kepala wilayah ."
Celia geram, "Berarti benar, bank ini tidak aman. Gak cocok sama namanya, Bank Aman. Bukannya aman, malah menipu"
Haris benar-benar terpojok, dia tak bisa berkata apa-apa lagi. Untungnya ponsel Haris berbunyi. Haris pamit keluar, meninggalkan Celia dan Toni.
Di luar, Haris menemui Arya. "Ngapo kamu nelpon?" tanya Haris.
Arya berbisik ke telinga Haris. Kita belum tahu, apa yang dibisikkan Arya. Tapi Haris tersenyum lebar, seperti dapat ide segar.
"Hmmm... Aku harus terus membujuk Bu Celia, supayo kito pacak mengulur waktu!" jelas Haris.
-----
Sekarang, pindah ke Raisa, Dina, dan Wulan di lantai satu. Bank masih ramai, meski keributan tadi membuat suasana agak tegang. Nasabah-nasabah unik mulai berdatangan, seperti biasa.
Pertama, seorang nenek tua bernama Nyai Jum (70 tahun) dengan tongkat kayu mendekati loket Raisa. "Nak, tolong cek tabungan Nyai yo. Katonyo ado bungo yang masuk, tapi Nyai lupo PIN ATM-nyo," katanya dengan suara gemetar.
Raisa tersenyum sabar. "Tenang, Nyai. Saya reset PIN-nya. Ini buku tabungannya ya." Sambil memproses, Raisa menjelaskan cara pakai ATM lagi, bahkan menggambar sketsa sederhana di kertas.
Dina di sebelah melayani seorang pemuda yang memakai rompi bertuliskan "IOJOG, IKATAN OJEG ONLINE GELUMBANG", namanya Kang Udin (25 tahun), tukang ojek online yang setor recehan. "Yuk, ini uang recehan 500 ribu. Tolong hitung, yo. Aku kecapean ngejar order hari ini," katanya sambil mengelap keringat.
Dina mengangguk, menggunakan mesin hitung. "Wah, lumayan Kak. Sudah setor rutin nih, bonusnya nanti naik."
Wulan dapat nasabah eksentrik: seorang guru SD bernama Bu Dyah (40 tahun), yang bawa map tebal proposal. "Yuk, aku ngajuke kredit pendidikan untuk sekolah. Tapi tolong jelaske syaratnyo pelan-pelan, aku kurang paham istilah-istilah bank."
Wulan menjelaskan detail, sambil memberi contoh sederhana. "Seperti ini, Bu Dyah. Angsuran bulanan seperti nyicil belanja bulanan."
Nasabah lain datang: seorang anak muda hipster bernama Dio (22 tahun), dengan tato lengan, mau buka rekening digital. "Yuk, ini untuk freelance aku. Pacak langsung link ke e-wallet dak?" tanya Dio ke Raisa.
Raisa sigap. "Bisa banget! Saya bantu setup sekarang."
Suasana bank hidup lagi dengan cerita-cerita kecil ini, meski bayang-bayang krisis masih ada.
-----
Kembali ke ruangan Haris. Haris (yang sudah kembali) menjelaskan: Dia hanya bisa menyediakan tunai 300 juta. Kalau Celia mau, uang tersebut sudah disiapkan di lantai bawah.
"Enak aja. 2 milyar itu uang saya, bukan uang kalian. Kalian kok ngatur-ngatur gitu?" Celia tambah marah.
Haris emosi, terjadi perdebatan mulut. Toni terus merekam, sambil siaga. Haris sadar dan marah ke Toni...
"Hentikan rekaman kamu! Ini pembicaraan off the record!"
Celia membela Toni, "Kalo gak mau rekaman ini viral, serahkan uang saya yang 2 milyar! Kamu dan bank ini gak punya hak atas uang saya."
Kali ini Haris tak berkutik. Sesaat hening, hingga tiba-tiba...
Pintu ruangan terbuka. Azwar (47 tahun) masuk dengan langkah tegas tapi tenang, jas rapi, aura berwibawa.
“Celia, cukup. Kito balek,” katanya datar.
Celia kaget, tapi langsung diam.
Azwar menoleh ke Haris. “Maaf ya, Pak Haris. Istri saya lagi khawatir berlebihan gara-gara rumor kas cabang. Penarikan 2 miliar Bu Celia saya setujui dilakukan bertahap: 300 juta tunai hari ini, sisanya transfer besok langsung ke rekening baru atas nama dia pribadi.”
Haris langsung menghela napas lega. “Terima kasih banyak, Pak Azwar.”
Azwar menatap Celia.
“Saya juga dengar rumor yang sama dari rekan-rekan bisnis, makanya saya langsung datang. Rumor itu akan saya bantu redam. Tapi tolong, Pak Haris, jaga nama baik kita bersama.”
Toni yang tadinya siap liput, melihat situasi sudah damai dan ada “restu” dari tokoh berpengaruh, akhirnya menurunkan kamera. “Kalau sudah clear begini, saya nggak jadi tulis berita negatif. Tapi tetap saya pantau ya, Pak,” katanya sambil tersenyum tipis.
Celia akhirnya setuju. 300 juta tunai disiapkan segera oleh Wulan dan Rahayu. Celia dan Azwar keluar bersama, urusan penarikan selesai tanpa skandal.
-----
Sore hari, bank tutup. Di parkiran belakang, Dedi, Siti, dan Budi ngobrol kecil.
“Untung ado Pak Azwar. Kalu idak, repot kito,” kata Dedi.
“Iyolah. Seperti kato Bang Haji Rhoma Irama yang liriknyo, (nyanyi) 'stop perdebatan, stop pertengkaran, stop permusuhan, stop pertikaian'".
Dedi dan Budi geli melihat tingkah Siti yang sambil joget.
Arya keluar terakhir, helm di tangan. Haris menghampirinya.
“Terima kasih, Arya. Ide kamu hubungi Pak Azwar itu cerdas. Reputasi bank kito selamat.”
Arya mengangguk datar. “Yang penting nasabah percayo lagi, Pak.”
Haris tersenyum, tapi Arya dalam hati tetap gelisah—dia tahu masalah kredit fiktif belum selesai.
-----
Malam di alun-alun Gelumbang. Raisa sedang berada di warung tenda pempek bersama Lestari (Mama-nya). Lestari (49 tahun) bercerita tentang masa lalu Gelumbang yang adalah kecamatan. Lestari nggak nyangka kalau Gelumbang bisa maju sepesat ini.
"Sekarang Kabupaten Gelumbang terdiri dari kecamatan Gelumbang, kecamatan Lembak, Sungai Rotan, Kelekar, Muara Belida dan Belida Darat," papar Lestari.
"Kalo dulu apa, Ma?" tanya Raisa.
"Kalo dulu, ya kecamatan Gelumbang aja," jelas Lestari.
Tiba-tiba Raisa sekilas melihat Arya sedang bicara pelan dengan Pak Warsa, di luar warung tenda. Arya cepat-cepat menghindar saat sadar dilihat oleh Raisa.
Raisa mengerutkan kening dalam hati: “Ada apa dengan mereka berdua?”
-----
Pagi Kamis di Bank Aman, alias hari ketiga Raisa magang. Di dalam kantor, Raisa sudah duduk di loketnya, rambut diikat rapi, senyum segar seperti biasa. Begitu melihat Arya yang baru datang, Arya langsung melambai kecil. "Kak, bentar ya. Kita harus ngobrol."
Arya menghela napas panjang, lalu menarik Raisa ke ruang arsip yang sepi—tempat yang sama kemarin dipakai Dedi. Pintu ditutup pelan.
"Ra, semalam kamu lihat aku dan Pak Warsa, kan?" Arya mulai bicara pelan, suaranya bergetar. "Dio memang ayah kandung aku. Tapi kami pura-pura dak saling kenal sejak aku masuk bank ini."
Raisa mengerutkan kening, bingung tapi penuh empati. "Kenapa, Kak? Ayah-anak kok sampai segitu?"
Arya menatap lantai. "Dulu, waktu aku masih sekolah, keluargo kami hancur gara-gara kredit macet di Bank Aman ini. Ayah aku minjam duit untuk modal usaha kecil, tapi kami gagal bayar. Bank eksekusi tanah dan rumah kami. Yang tangani kasus itu... salah satunya Pak Haris, waktu dia masih staf junior. Dio ini kejam, Ra. Idak ngasih keringanan, langsung lelang. Ibu aku stres berat, akhirnya... sakit dan meninggal setahun kemudian."
Raisa menutup mulutnya dengan tangan, mata berkaca-kaca. "Kak... aku nggak tahu. Maaf banget."
"Ayahku patah semangat, pindah ke KELURAHAN TAMBANGAN KELEKAR, hidup sederhana. Habis itu Pak Haris sempat pindah ke kota lain. Baru 2 tahun ini balek lagi ke sini dengan posisi jabatan seperti sekarang." Jelas Arya.
"Aku masuk bank ini justru karena ingin lihat dari dalam—pengen paham ngapo Pak Haris kejam nian. Tapi lamo-lamo aku malah jadi bagian dari sistemnya." Arya tertawa kecil, pahit. "Dan sekarang, aku tahu Pak Haris lagi ulangi kesalahan yang sama: kredit fiktif, kas kosong. Aku bingung, Ra. Nak membongkar, tapi takut kehilangan pekerjaan kito."
Raisa memegang lengan Arya pelan. "Kamu nggak sendirian, Kak. Aku bantu. Kita cari bukti bareng, pelan-pelan."
Terasa chemistry di antara keduanya. Entah mengapa, ada rasa yang berbeda Arya rasakan saat Raisa menggenggam tangannya. Tatapan mata mereka bertemu, dan waktu serasa berhenti.
Tiba-tiba terdengar suara engsel pintu bergerak. Arya dan Raisa kaget. Seperti ada yang mendengar pembicaraan mereka. Keduanya bergegas pergi dari situ, namun kemudian di lorong kantor justru mereka ketemu dengan Haris.
Arya dan Raisa kaget.
Haris juga kaget melihat mereka.
Apakah Haris yang menguping pembicaraan Arya dan Raisa tadi?
BERSAMBUNG...
=====
EPISODE 3
Oleh: Lolo Tukang Ketik
-----

Komentar
Posting Komentar