Wakil Kepala Cabang





Senin siang di ruang rapat lantai 2 Bank Aman Cabang Gelumbang berlangsung lebih singkat dari dugaan semua orang. AC yang biasanya dingin terasa lebih lembab karena ketegangan yang menggantung di udara, meski Dewi Susilo dan timnya tetap profesional sejak awal. Setelah memeriksa sampel transaksi acak dari komputer Eko—yang sudah dibersihkan dengan teliti malam sebelumnya— Dewi menutup map tipisnya dengan pelan. Wajahnya tetap ramah, tapi matanya tajam seperti auditor yang sudah terbiasa membaca antara baris.

“Secara keseluruhan, performa cabang stabil, Pak Haris,” kata Dewi dengan suara datar. “Target setoran naik 12% tahun ini, keluhan nasabah turun. Tapi ada kekurangan kecil: likuiditas harian sering tipis, dan dokumentasi kredit usaha kurang rapi di beberapa kasus. Ini bisa jadi risiko jika ada penarikan besar mendadak, tapi tidak signifikan untuk sekarang. Kami beri teguran tertulis ringan—perbaiki dalam tiga bulan ke depan. Koordinasi lebih ketat dengan wilayah, ya.”

Haris mengangguk sopan, senyumnya lebar tapi mata menyipit penuh kemenangan diam-diam. “Terima kasih banyak, Bu Dewi. Kami pasti ikuti saran. Ini gara-gara manajemen darurat pasca-pandemi, tapi sudah kami atasi. Bonus pusat tahun lalu membantu stabilkan semuanya.”

Dewi mengangguk tipis, tidak mengejar lebih jauh. Timnya mulai mengemas laptop dan dokumen, evaluasi hampir selesai. Tiba-tiba Haris berdiri, gerakannya cepat tapi terkendali, seolah momen ini sudah dia rencanakan jauh-jauh hari.

“Sebelum Bu Dewi dan tim berangkat, izinkan saya memperkenalkan satu orang,” kata Haris dengan nada bangga yang dipoles sempurna. Dia melirik ke arah Arya yang duduk kaku di kursi pojok, lalu melambaikan tangan kecil memanggilnya maju. “Ini Arya, CS senior kami yang paling berdedikasi. Mulai hari ini, beliau resmi saya angkat sebagai Wakil Kepala Cabang Gelumbang—rekomendasi langsung dari saya ke pusat. Arya sudah terbukti loyal, teliti, dan mampu jaga rahasia cabang dengan baik.”

Ruangan hening sejenak. Dewi mengangguk hormat, mengulurkan tangan untuk jabat tangan. “Selamat, Mas Arya. Semoga semakin sukses memimpin cabang ini.” Arya berdiri dengan kaku, tangannya dingin saat bersalaman, senyumnya dipaksakan hingga pipi terasa kaku. Di dalam hatinya badai bergolak—promosi ini bukan penghargaan, tapi imbalan atas diamnya, belenggu emas yang Haris pasang agar dia tak pernah membongkar lagi.

Raisa di pojok hanya bisa menunduk lebih dalam, tangannya mengepal buku catatan hingga kertasnya kusut. Haris menatapnya sekilas—senyum tipis

-----

Di rooftop Bank Aman, Raisa sudah menunggu di sudut tangga atap yang jarang dikunjungi orang, punggungnya bersandar ke dinding beton kasar, mata merah karena menahan tangis sejak evaluasi selesai. Dia mendengar langkah kaki mendaki tangga besi—perlahan, berat—dan tahu siapa yang datang.

Arya muncul di ambang pintu rooftop, napasnya sedikit tersengal setelah naik tangga cepat. Wajahnya campur aduk: lega karena akhirnya menemukan Raisa, tapi juga gelisah melihat gadis itu menatapnya dengan mata penuh amarah dan kekecewaan.

“Ra… aku nyari kamu dari tadi,” kata Arya pelan, mendekat tapi berhenti beberapa langkah sebelum terlalu dekat.

Raisa langsung berdiri, suaranya bergetar tapi tegas. “Buat apa lagi, Kak? Selamat ya atas jabatan barunya—Wakil Kepala Cabang. Pasti kamu senang, kan? Akhirnya dapet yang Kakak incar dari awal.”

Arya menggeleng cepat, matanya melebar. “Ra, bukan mak itu! Aku dak pernah minta promosi ini. Pak Haris yang tiba-tiba—”

“Tapi Kakak terima!” potong Raisa, suaranya naik sedikit, air mata akhirnya jatuh juga. “Kakak diam saja waktu Pak Haris bilang Kakak ‘loyal’ dan ‘jago jaga rahasia’. Kakak biarin aku yang magang ini pertaruhkan segalanya—malam-malam foto dokumen, kirim email anonim, takut dipecat tiap hari—cuma buat bantu Kakak bongkar kredit fiktif. Ternyata itu cuma akal-akalan Kakak supaya Pak Haris percaya dan angkat Kakak! Aku bodoh percaya sama Kakak!”

Arya maju satu langkah, tangannya terangkat ingin memegang lengan Raisa tapi berhenti di udara. “Ra, dengar dulu… aku dak pernah rencanake ini. Aku jugo shock waktu Pak Haris umumke tadi. Aku cuma diam kareno… kareno aku bingung. Dendam samo Pak Haris itu sudah lamo, dari zaman ayahku. Tapi promosi ini… ini jebakan, Ra. Belenggu supayo aku tutup mulut selamonyo.”

Raisa menggeleng keras, air mata mengalir lebih deras. “Jangan banyak alasan, Kak. Kakak pilih jabatan dan gaji lebih tinggi daripada bantu aku—daripada bantu nasabah yang percaya sama bank ini. Aku udah capek, Kak. Aku nggak mau lagi jadi pion dalam permainan Kakak sama Pak Haris.”

Dia berbalik, langkahnya cepat menuju tangga turun. Arya mencoba mengejar, “Ra, tunggu! Aku biso jelaske lebih—”

Tapi Raisa sudah turun beberapa anak tangga, suaranya tercekat tapi tegas dari bawah. “Sudahlah, Kak Arya. Selamat atas jabatan barunya. Aku harap worth it.”

Arya berdiri di rooftop sendirian, tangannya mengepal di sisi tubuh. Dia ingin mengejar, ingin teriak bahwa Raisa salah paham, tapi kakinya terasa berat seperti ditanam di tempat. Kata-kata Raisa menusuk dalam—mungkin ada benarnya juga. Dia diam terlalu lama, ragu terlalu lama. Dan sekarang, gadis yang mulai membuat hatinya hangat itu pergi dengan luka yang Arya sendiri ciptakan.

-----

Di lantai satu, suasana tetap ramai seperti biasa. Nasabah harian mulai mengular di antrean, tidak tahu ada evaluasi penting di atas—apalagi promosi mendadak yang baru saja diumumkan. Dina kembali ke loketnya dengan senyum lebar, seolah tidak ada apa-apa. Eko sibuk di ruang admin belakang, backup data “bersih” yang baru saja lolos pemeriksaan. Arya dan Raisa yang mulai tak akur, kini sudah berada di posisi masing-masing.

Nasabah pertama yang mendekati loket Raisa adalah Sari, pedagang sayur rutin yang sudah seperti keluarga kantor. Wajahnya cerah hari ini, kantong plastik hitam penuh uang receh digenggam erat. “Selamat siang, Dek Raisa! Ini setor lagi, anak aku lah resmi daftar kuliah di Palembang. Jurusan ekonomi, katonyo nak jadi seperti kamu di bank ini. Wah, seneng nian hati Ibu!”

Raisa memaksakan senyum, meski hatinya berat seperti batu. “Wah, selamat ya Bu! Pasti bangga sekali. Ini uangnya saya hitung dulu, ya.” 

Sambil memproses setoran, Raisa mendengar curhatan Sari tentang biaya masuk kuliah yang lumayan, tapi rezeki dagangan pasar lagi lancar. “Dek, jaga kesehatan yo. Mukamu pucat nian hari ini, caknyo kurang tidur.”

“Saya gak apa-apa, Bu. Cuma capek kerjaan,” jawab Raisa pelan.

Di loket sebelah, Arya melayani Udin, tukang ojek online yang sudah langganan setor recehan. Wajahnya berpeluh, helm masih digenggam, seragam ojek online-nya basah keringat. “Kak Arya, ini recehan 300 ribu. Order hari ini rame nian, tapi khabarnyo bensin nak naik lagi. Tolong proses cepat, ya—ada penumpang nunggu.”

Arya mengangguk, menghitung uang dengan mesin sambil ngobrol ringan. “Wah, lumayan Kak. Lah nabung buat beli motor baru?” Udin tertawa kecil, cerita soal anaknya yang lagi sekolah online gara-gara banjir kecil di kampung. Arya mendengar sambil tersenyum tipis, tapi pikirannya melayang ke ayahnya—Pak Warsa yang masih menyimpan dendam lama. Kalau evaluasi ini lolos begitu saja, apa artinya perjuangan selama ini?

Tak lama, datang nasabah unik lain: Pak Kopral Kopi (disingkat Koko), pemilik warung kopi kecil di pinggir pasar, usia sekitar 40 tahun dengan kumis tebal ala militer dan tato lengan pudar yang katanya bekas jadi tentara. Dia menyerahkan amplop tebal berisi uang kertas campur aduk, hasil dagang akhir pekan. “Setor 700 ribu ini. Kopi susu dingin lagi tren, tapi kompetitor banyak nian. Tolong cek saldo yo, nak nabung buat renovasi warung.”

Arya memproses sambil tersenyum. “Wah, mantap Pak. Kapan kapan nyubo mampir, nyubo kopi andalannyo.” Koko cerita panjang tentang resep rahasia kopinya yang campur rempah lokal, dan rencana ekspansi ke gerobak keliling. Arya mendengar sambil mengangguk, tapi dalam hati gelisah—nasabah seperti ini yang percaya bank ini “aman”, tapi sebenarnya rawan kalau kas tipis terus.

Di loket Raisa, nasabah berikutnya adalah Bude Jahit, penjahit rumahan usia 45-an dengan tangan kasar penuh jarum suntik dan benang menempel. Dia bawa map tebal proposal sederhana, mau ajukan kredit kecil buat beli mesin jahit baru. “Dek, ini formulirnyo. Jahitan pesanan lagi banyak, tapi mesin lamo sering rusak. Bantu jelaske syaratnyo yo, aku kurang paham istilah bank.”

Raisa sigap menjelaskan langkah demi langkah, sambil empati. “Tenang Bude, ini tabungan berjangka cocok buat Bude. Angsuran ringan, bisa dari hasil jahitan harian.” Bude cerita tentang pesanan seragam sekolah yang banjir akhir-akhir ini, dan mimpi buka butik kecil di pasar.

Antrean berlanjut sepanjang siang. Di tengah keramaian, tiba-tiba pintu belakang bank terbuka pelan. Dua pria berpakaian preman sederhana—baju kemeja lengan pendek dan celana jeans—masuk tanpa banyak suara. Dedi di pos satpam langsung berdiri tegak, tapi pria itu perlihatkan kartu identitas tipis. “Kami dari intel polisi. Minta bicara empat mata dengan Pak Haris soal transaksi nasabah tertentu.”

Dedi mengangguk pelan, memanggil Haris melalui interkom. Haris turun dengan langkah cepat, wajahnya untuk pertama kalinya benar-benar pucat di balik senyum profesional. “Ada yang bisa dibantu, Pak?”

Mereka pindah ke ruang kecil belakang, pintu ditutup rapat. Di dalam, salah satu intel membuka map tipis. “Pak Haris, kami selidiki transaksi Pak Hadi—setoran tunai besar rutin, nominal mencurigakan. Ada indikasi money laundering dari bisnis impor fiktif. Cabang Anda sering jadi saluran. Kami butuh data lengkap transfernya.”

Haris menelan ludah, suaranya tetap tenang. “Saya kooperatif, Pak. Tapi prosedur bank...”

Intel menggeleng tegas. “Ini urusan hukum. Kami sudah memantau sejak 2 bulan lalu. Jangan sampai cabang Anda terlibat lebih dalam.” Percakapan berlangsung singkat, Haris janji kirim data sore itu juga. Intel pergi lewat pintu belakang, meninggalkan Haris yang langsung naik ke ruangannya dengan wajah tegang.

Di lantai satu, rumor mulai bisik-bisik. Dina dan Eko saling pandang curiga, Wulan geleng-geleng kepala. Dedi bisik ke Arya: “Ini lebih besar dari yang kito kiro, Ya. Pak Hadi itu bukan nasabah biaso.”

Arya mengangguk pelan, tapi hatinya campur aduk. Evaluasi lolos, tapi polisi muncul—mungkin ini kesempatan baru?

-----

Sore hari, pukul 16.45. Roller shutter mulai diturunkan, lampu neon dimatikan satu per satu. Bank tutup. Raisa keluar dari pintu karyawan, wajahnya lelah sekali—mata sembab karena menahan tangis sejak pagi, tubuhnya seperti kehabisan energi setelah twist email dan evaluasi gagal. Dia naik ke motor pink metaliknya di parkiran belakang, helm dipasang pelan, tangan gemetar saat starter mesin.

Aspal parkiran masih basah sisa hujan deras siang tadi, genangan air mengkilap di bawah lampu taman yang redup. Raisa pelan-pelan menggerakkan motornya menuju gerbang keluar, tapi ban depan tergelincir di genangan licin. Motor oleng, Raisa jatuh ke samping dengan suara benturan keras—helmnya terbentur aspal, tubuhnya terguling ringan.

Tapi spion motor tidak patah.

Raisa pingsan sebentar, kepalanya pusing karena kelelahan akut ditambah stres berhari-hari. Dedi dan Budi yang sedang jaga di pos satpam langsung berlari menghampiri. “Raisa! Ai, gawat ini!”

Kebetulan, Fajar baru saja parkir Fortuner hitamnya di depan gerbang—dia datang atas permintaan Lestari untuk jemput Raisa, seperti janji malam Sabtu. Melihat keributan, Fajar langsung turun dan berlari. “Ra! Apa yang terjadi?!”

Fajar panik, langsung menggendong tubuh lemas Raisa dengan hati-hati, dibantu Dedi yang angkat helmnya. “Cepat, ke mobil! Kita ke Rumah Sakit!” Budi buru-buru buka gerbang, Fajar menggendong Raisa ke kursi belakang Fortuner-nya, mesin langsung dinyalakan dan melaju pergi dengan cepat, meninggalkan debu tipis di parkiran yang mulai gelap.

Di kejauhan, Arya muncul dari pintu karyawan belakang. Melihat keributan, Arya berlari sambil helm masih digenggam, napas tersengal. “Ra! Apa yang...”

Tapi mobil Fajar sudah melaju pergi, lampu belakangnya memudar di jalan raya yang ramai. Arya berdiri sendirian di parkiran yang sepi. Wajahnya penuh penyesalan—mata merah, rahang menegang, tangan mengepal hingga sakit. Rasa bersalah membuncah seperti gelombang: apa yang dia lakukan selama ini? Kenapa Raisa harus menjadi bagian dari dendam masa lalu Arya dan ayahnya (Warsa)? Dan sekarang, gadis yang mulai dia sayangi dibawa pergi orang lain.

Arya memandang spion motornya yang tanpa cermin, belum juga diganti.

BERSAMBUNG...

=====

EPISODE 7

Oleh: Lolo Tukang Ketik

-----





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia Kota Kecil

Bayang-bayang Uang Tunai

Yang Aman untuk Hati